20 Jan 2012

Panggil Aku Amoy (Sebuah Ironi)

credit
Ini bukan mengenai rasisme, tapi tentang bagaimana engkau memperlakukan seseorang...

Dilahirkan sebagai seorang Chinese-Minangkabau, tidak mudah bagiku besar dalam dua keluarga yang saling bertentangan. Seandainya saja Romeo-Juliet akhirnya menikah dan mempunyai seorang gadis kecil, bayangkan saja jika ia harus terpaksa 'memihak' salah satu keluarga yang saling bermusuhan. Dan itu sama saja seperti 'menang jadi arang, kalah pun jadi abu'.
Sayangnya, perlakuan lingkungan sekitarku pun tidak mendukung.




PAK, NAMAKU MAYYA, JELAS?

Mayya kecil adalah gadis pemberontak dan ia tidak akan suka diperlakukan tidak adil.
Suatu hari, ia 'terpaksa' dimasukkan ke Madrasah Diniyah Awaliyah diantar ayahnya yang sipit itu ke depan gerbang. Barisan anak-anak sudah rapi di halaman madrasah karena kelas sudah mulai. Ia tahu anak-anak itu memperhatikan mereka seolah mereka dari planet lain. Ia menatap ayahnya, dan ia menggeleng mengisyaratkan untuk tidak mau masuk. Lalu ayahnya mulai mendelik dan berkata, "Ayo masuk, mulai hari ini kamu belajar di MDA! Tidak ada kata tidak!" Ia tahu ayahnya. Jika sang ayah bilang harus, berarti harus.

Ia pun menguatkan dirinya untuk melangkah masuk. Sesekali dibetulkannya letak jilbab yang baru pertama kali dipakainya itu. Saat itu ia masih berumur 10 tahun dan ia sadar ia sudah terlalu besar untuk masuk MDA, yang harus memulai lagi dari kelas 1.
Pagi hari ia bersekolah di sekolah Katolik, siangnya ia bersekolah di Madrasah.

Tentu saja, pasti akan ada saja anak usil yang akan mengejeknya. Dan ia sudah siap untuk itu. Panggil aku China dan aku akan menghajarmu!
Betul saja, beberapa hari ia bersekolah disana, ia mulai diejek dan ditertawakan.
Kebetulan yang 'rutin' mengejeknya setiap hari adalah seorang anak yang berkulit hitam dan bermata sipit pula.

Tak ayal, si gadis kecil itupun balas mengejeknya. Setiap kali dia diejek, setiap itu pula dibalasnya. Dan itu terjadi hampir setiap hari. Kadang-kadang diakhiri dengan perkelahian. Bayangkan saja seorang gadis kecil berjilbab ber'smack down'-ria dengan pria kecil.
Baginya hal tersebut sudah seperti multivitamin. Ejekan-ejekan itu masuk ke telinga kiri dan keluar ke telinga kanan.

Namun, hari itu ia tidak bisa melupakan sebuah ejekan.
Hari itu ia dipanggil untuk menunjukkan hafalan sholatnya.
Sang guru memanggil namanya, dengan memplesetkan namanya dengan bahasa Mandarin yang ngawur, dan seluruh murid menertawakannya.

Ia kaget, dan memperhatikan satu-persatu wajah teman-temannya yang tertawa.Hatinya seakan mau meledak, malu dan marah bercampur menjadi satu.
Ia menatap lantai, tak ingin mereka menatap wajahnya yang merah menahan amarah. Ia bertanya dalam hatinya, "Kata Allah, setiap muslim itu bersaudara, tetapi kenapa mereka memperlakukan saudara mereka seperti ini?"
Ketika bel pulang berbunyi, ia berlari sekencang-kencangnya kerumah, sambil menangis sekeras-kerasnya. Bertanya-tanya kenapa dunia tidak adil untuknya. Kenapa seluruh dunia menertawakannya hanya karena ia China.
credit

SANDAL HARGA DIRI

Di hari lain, ia sedang mengerjakan PR mendapati adiknya yang berumur 8 tahun berlari ke rumah dengan menangis. Ia panik dan bertanya, "Ada apa dek? Kenapa menangis?"
"Adek diludahi dan diejek China, ditunjukkannya pantatnya dan digoyang-goyangkan ke adek!" ia menjawab sambil sesenggukan."Lalu kenapa malah nangis? Kenapa gak membela diri?" cecar kakaknya itu. "Sekarang tunjukkan rumahnya!" ia menggaet tangan adiknya dan  berjalan penuh dengan emosi. Adiknya berusaha membujuk kakaknya itu untuk pulang saja dan mengurungkan niatnya, tapi tentu saja tidak berhasil pada si kakak keras hati.

Tak lama, mereka tiba di rumah berpagar itu. Seorang anak lelaki keluar dari pintu, mungkin sekitar kelas 1 atau 2 SMP. Dan adikku berbisik, "Itu dia orangnya Ci!" Lalu disuruhnya si adik itu pulang.
Anak lelaki itu melihatnya dan mereka berdua mulai bertatapan, mirip seperti adegan dua koboi yang akan mengadu kecepatan menembak.
"Heh, kamu yang ngejek adikku tadi?" tanyanya. "Iya, lalu kenapa? Kan kalian emang China! Chiiinaaaa! Amooooy!" ejeknya. Dan seperti yang dikatakan adiknya tadi, si anak lelaki tadi mulai menggoyang-goyangkan pantatnya dan meludahinya dari balik pagar. Ejekan "China" dan "Amoy" terus saja terucap dari mulut anak itu. "Emang kenapa klo China, aku gak ngerugiin kamu! Kami gak minta makan dari bapakmu!" bantahnya sambil menangis.
"Percuma udah besar, tapi mulutmu gak bisa dijaga!" sambungnya penuh emosi.
Tak lama, muncul teman si anak lelaki tadi di lantai dua, melakukan ejekan yang sama. Dan jadilah dua orang itu bersamaan mengejeknya. Kehilangan akal, si gadis kecil mengamati sekitarnya dan matanya tertuju pada batu-batu kecil di tempatnya berdiri. Ia memungut beberapa, dan dilemparkannya ke anak yang ada di atas itu berkali-kali dengan penuh kemarahan. Dan, ptaak! Batu itu tepat mengenai pelipis matanya! Aha! Seperti memenangkan lotere, ia bersorak,"Mampus!"
Lalu ia berusaha masuk kerumah itu, membuka pagar dan menghampiri si anak pertama di pintu rumah. Ia sudah kehabisan batu. Dan dengan berpikir cepat, ia mengambil sandalnya yang kebesaran dan menamparkannya berkali-kali ke muka si anak lelaki!
Si gadis kecil sudah tak takut lagi dengan badannya yang besar itu! Ia sudah melewati batas!

Dan perkelahian itu terhenti saat tiba-tiba muncul ibu si anak dari dalam rumah, dan membentak mereka. "Ada apa ini? Kenapa kalian ribut?"
"Tanya anak ibu, kenapa ngejek-ngejek China!" sanggahnya. Si ibu marah dan berkata, "Eh, ini rumah saya, jangan buat ribut-ribut disini!"
"Anak ibu tuh yang ribut! Ajarin mulutnya!" teriaknya.
"Eh, kamu masih kecil udah lancang ya!"
"Emangnya anak ibu gak lancang?" balasnya sambil berlari pulang.
Ia tahu ibunya akan menunggu di rumah dengan kemoceng ditangan, mengetahui ia berkelahi lagi. Ia sudah mempersiapkan badannya menjadi biru-biru. Tapi yang pasti, si gadis kecil pulang dengan hati lega dan penuh kemenangan walaupun sambil menangis!

LEBARAN TAK TERLUPAKAN

Mereka tiba di kampung ibunya di Kambang, Sumatra Barat. Gadis kecil itu tidak familiar dengan tempat itu dan tidak terbiasa berbahasa daerah setempat. Ia memang mengerti tapi tidak bisa mengucapkan. Berbeda dengan bahasa Mandarin, ia malah tidak bisa mengucapkan apalagi mengerti.
Mereka disambut oleh keluarga Mak Uwonya di sebuah rumah sederhana.
Disana ia tahu ia punya beberapa sepupu dari Mak Uwonya itu. Tiga orang lelaki dan seorang perempuan.
Tak lama, gadis kecil dan adiknya sudah asyik bermain dengan dua sepupunya. Sang ibu dan Mak Uwo sibuk pula di dapur.
Bosan, ia menghampiri ibunya yang sedang membantu memasak. Ia tak terlalu peduli dengan percakapan di dapur itu, sampai ia mendengar Mak Uwonya berkata dalam bahasa Minang ke ibunya, "Putih ya si Mayya ini. Tapi biarlah anak gadisku hitam asal hitam manis daripada putih tapi putih murah..." tanpa ada rasa bersalah sedikitpun di wajahnya.

Bertahun-tahun kemudian ia membuktikan ke Mak Uwonya, bahwa putih kulitnya itu adalah putih berlian. Semakin digosok semakin berkilau.

MY OWN SASSY GIRL


Si gadis kecil pun mulai tumbuh menjadi wanita yang keras hati dan penyendiri. Masih takut akan statusnya sebagai gadis "China", ia mencoba menemukan belahan hatinya.  Patah hati berkali-kali, hingga seorang lelaki menjalin hubungan serius dan ingin meneruskan hubungan mereka.

Ia bertanya pada lelaki itu, "Aku ini China. Apa kamu bisa menerimanya? Juga keluargamu?"

"Tuhan tidak pernah membedakan manusia kecuali ketakwaannya... Dan aku tahu keluargaku cukup berbesar hati untuk menerima perbedaan." jawab lelaki itu.

"Lagipula, aku memang menyukai gadis berwajah oriental sepertimu. Seperti punya my sassy girl sendiri" sambungnya.

Dan begitulah, mereka memulai kisah happily ever after-nya.

MAYYA DEWASA

Saat ini dan hingga kapanpun, ia tak takut lagi akan ke-China-annya atau ke-Hoana-annya. (Hoana :panggilan orang Chinese untuk pribumi atau suku asli).

Ia sudah yakin, bahwa menjadi China, Minang, Batak, Jawa, atau apapun sukunya bukanlah tolok ukur kualitas diri. Demikian pula jabatan, kekuasaan, kekayaan yang sifatnya hanya sebatas dunia.

Ia kadang tertawa sendiri mengingat masa kecilnya yang berwarna itu.
Entah berapa kali ia berkelahi demi harga diri.
Entah berapa banyak orang lain mengucilkannya.
Entah berapa kali ia meragukan keeksitensian dirinya di dunia.

Tuhan tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia, itulah yang ia sadari.

Kita tidak pantas menilai seseorang hanya dari siapa dia, tapi lihatlah seseorang dari karyanya atau perbuatannya yang memberi manfaat untuk orang lain. Sekecil apapun.
Mungkin saat ini ia hanya pegawai rendahan.
Mungkin saat ini ia hanya pembantu.
Mungkin saat ini ia hanya buruh.
Mungkin saat ini ia hanya ibu rumah tangga.
Tak ada seorang pun tahu akan jadi apa kita nanti.
Hanya Tuhan yang tahu.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(TQS. Al Baqarah : 216)


Panggil aku Amoy, dan aku tahu seberapa dangkalnya dirimu.





Selamat Liburan! ^_^

credit

post signature

2 komentar:

  1. Kereeen postingan ini! Asli keren abiss!! Ini tentang mayya beneran??!! Hebat! Gw juga dulu suka disangka anak cina karena pas baby bentuknya bulet, putih n sipit pula hehe..tapi gak nyangka kok ada yg ngejek2 gitu yah? Emang kenapa kalo cina?? (..•͡˘_˘ •͡..) Tapi itu mak uwo-nya kok ngomongnya gitu banget sih, putih murah...siwalan bgt! Jadi ikut kesel gw bacanya hehe...but actually terjadi juga tuh kisal romjul sama temen, cowoknya batak ceweknya cina dan both family gak mau saling terima sampe mereka pgn kawin lari aja. Selain cina kesukuan yg lain juga banyak lho. Temen dulu padang, ditentang habis2an sama keluarga cowoknya yg jawa betawi...heran yah...sigh...

    BalasHapus

Your thoughts greatly appreciated! Share it with us! (^_^)

Followers

This blog is
Protected by Copyscape Plagiarism Detection
myfreecopyright.com registered & protected
DMCA.com
Copyrighted by Mayya.
Don't copy anything of this blog without any permissions.