//
- 19 Jul 2012

Gadis Kecil Sulung Papa

Seperti biasanya, rutinitas sebelum bulan Ramadhan menjelang adalah berziarah ke pusara orang tua. Begitu pun denganku. Sudah dua Ramadhan almarhum papa tak lagi bisa sahur bersama dengan kami.

Jangan ditanya betapa aku merindukan papa.
credit

SI UPIK ABU

"Piak*, buatkan papa mie rebus!"

"Piak*, buatkan papa kopi!"

"Piak*, tolong pijatkan kaki dan punggung papa!"

Dari kami bertiga bersaudara, akulah yang paling sering menjadi 'tumbal' segala permintaannya. Mungkin itulah resiko menjadi anak pertama dan kebetulan satu-satunya anak perempuan.
Atau mungkin karena dulu ia sudah bekerja keras sejak kecil karena perannya sebagai anak pertama dan ingin sedikit bernafas lega di masa tua. Atau mungkin kami sama-sama si anak pertama yang keras kepala. Atau mungkin sudah alamiah bahwa seorang anak perempuan dekat dengan ayahnya. Atau mungkin semua opsi tadi.

Membuatkan sesuatu untuk papa itu begitu melelahkan. Betapa tidak?
Kami tinggal di ruko berlantai tiga. Usaha papa di lantai satu dan kamarku di lantai tiga. Dapur di lantai dua.

Beliau akan memanggil, "Upiak!*". Lalu aku turun ke lantai satu, "Apa pa?". "Buatin papa mie/kopi." Lalu aku naik ke lantai dua, masak permintaan Beliau. Setelah selesai, turun lagi ke lantai satu, menyerahkan 'titah baginda'. Lalu naik lagi ke lantai tiga, melanjutkan tugas kuliah.
Bayangkan reka adegan tersebut jika dalam sehari, papa minta tiga permintaan! T_T

Sudah berulang kali aku menolak dengan cara halus alias ngeles beberapa permintaannya.

"Mayya lagi belajar nih. Papa gangguin aja. Kan bisa minta tolong mama dulu?"

Itu biasanya kalimat sakti yang kukeluarkan untuk 'keluar dari tanggung jawab'.

"Mie rebus buatan Mayya lebih enak.", itu kalimat sakti papa untuk menepis segala alasan yang kubuat-buat.

Entah harus merasa bangga karena mie rebus buatanku terenak di lidahnya atau tidak.

"Ah, alesan papa aja. Dimana-mana mie rebus itu ya bumbunya kan sama! Kan dari satu pabrik juga, masa' bisa beda?", sahutku tak kalah sengit. Ya, mie rebusnya itu hanya mie instan, saudara-saudara!

"Udah, buatin aja!", kalimat penutup papa.

Aih, kalau sudah begitu, akhirnya aku manut saja, dengan mengomel tentunya.

*upiak : panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa Minang

LAHIR DINI

Dibalik segala perselisihan diantara kami, walaupun Beliau tidak pernah mengatakan ia menyayangiku, aku tahu, aku adalah anak pertama kesayangannya.

Aku lahir dalam keadaan premature. Ketika kandungan mama berusia 6 bulan seminggu, ternyata aku ingin melihat dunia lebih cepat. Papa yang waktu itu berada di Pekanbaru, tidak menyangka aku lahir secepat itu dan bergegas pulang ke Padang.

Ketika dokter menyerahkan surat keterangan lahir, tertera:

Berat Badan Bayi : 1000 gram

Seketika papa yang biasanya ahli dalam hitung menghitung matematika, ia sampai lupa 1000 gram itu berapa kilogram.

Alhasil, selama 21 hari ke depan setelah aku menyapa dunia, papa dan mama sibuk bolak-balik rumah sakit untuk memberikan perahan ASI untukku. Mereka tidak bisa menggendong atau memelukku, karena  terpisah oleh inkubator dengan segala selang di tubuh yang men-support hidupku kala itu.

credit


Setelah keluar dari rumah sakit, papa membuatkan inkubator buatan untukku. Pernah lihat tempat penetasan telur yang memakai lampu di atasnya? Seperti itulah inkubatorku. Sebuah tempat tidur bayi yang diatasnya ada lampu yang harus hidup terus menerus.
Hal inilah yang membuat aku hingga sekarang memiliki temperatur tubuh yang lebih tinggi dari orang lain.

Dengan ukuran tubuh yang memang hanya sebesar botol kecap, Jika papa menggendongku keluar rumah, anak-anak kecil di sekitar perumahan akan mengejekku dengan berseru, "Anak tikus! Anak tikus!". Tentu saja papa berang dan memarahi mereka!

Ah, aku selalu menyukai cerita itu dari mulutnya. Entah berapa kali cerita itu diulang-ulang, tapi aku tak pernah (bisa) bosan. Akulah yang pertama kali dan satu-satunya membuat papa dan mamaku kewalahan ketika lahir.

ISTRI MUDA?

Ada suatu pengalaman lucu antara kami berdua. Kejadian ini begitu membekas di hatiku. Aku dan papa adalah pecinta makan sejati. Kami begitu kompak dalam hal itu dan mungkin satu-satunya. Di suatu malam, papa mengajakku makan di Cikapunduang, tempat makan emperan pinggir jalan yang biasanya masakan Padang. Seperti biasa, makan sambil ngobrol ngalur-ngidul. Tapi setelah beberapa saat, aku mulai memperhatikan pandangan-pandangan orang lain yang juga sedang makan menatap kami, dengan tatapan yang 'menginterogasi'.
Aku pun dengan spontan bertanya ke papa, "Pa, kenapa orang-orang liatin kita begitu?".Papa pun melihat sekitarnya dan tertawa pelan.
Tanpa menjawab pertanyaanku, ia terus menghabiskan makannya. Dan aku yang sedang bingung pun akhirnya mengikuti.

Setelah membayar, ketika menuju parkiran, barulah papa menerangkan maksud pandangan tadi."Mereka nyangka mungkin kita ini pasangan suami istri. Atau malah nyangkanya Mayya itu istri muda! Hahahaha!"
Aku melongo. Gak ngerti. Kok bisa?
"Ah, masa iya sih pa? Emang gak kelihatan kalau kita ini bapak anak?", masih ngotot.
"Lah, masak papa bohong? Coba hitung lagi umur kita...", jawabnya.
Mulailah aku mengingat-ngingat umur kami.
Seketika itu pula aku baru sadar, ternyata memang benar. Aku waktu itu masih berumur awal 20-an dan papa berumur awal 40-an.
Barulah aku ikut-ikutan tertawa dan geleng-geleng kepala.
Itulah resiko menjadi anak pertama!

BAKTI TERAKHIR

Ketika menjelang hari-hari terakhir papa pun, ia memutuskan untuk tinggal dirumahku, si anak pertamanya. Aku tidak tahu pasti alasannya, mungkin karena aku anak perempuan satu-satunya yang ia miliki atau ia ingin bertemu dengan cucu pertama dan satu-satunya, Little Bee. Mungkin keduanya.

Membuatkan bubur (yang belum sempat kusuapkan) dan memijat tangannya, adalah baktiku yang terakhir untuk Beliau. Sehari sebelumnya bahkan aku mengecup pipinya dan mengatakan aku mencintainya. Suatu hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya.

Mudah-mudahan semasa Beliau hidup, aku tidak mengecewakan dan menyakiti hatinya.

Tidurlah tenang disana, Pa. Doa tidak akan berhenti teriring untukmu.
Aku bangga menjadi putrimu.



post signature

Tulisan ini diikutsertakan pada
yang diadakan oleh

34 komentar:

  1. postingan ini membangkitkan kenangan akan almarhum Bapakku...kenangan indah yang takkan bisa terulang kembali

    BalasHapus
  2. JAdi penasaran sama Mie buatan MAyya..
    Boleh juga tuh dibikinin,..
    Mauu donk apalgi malem2 begini hmm..


    Semoga Papanya tenang di sana..
    Amin

    BalasHapus
  3. aduh jadi sedih ngebacanya may...
    pasti kangen banget ya ama papa lu...

    BalasHapus
  4. Mba may.. sangat menyentuh inii... hiks..

    smoga menang yaa.. ;)

    BalasHapus
  5. Aduh Mayya, terharu ih bacanya.. :')
    Sukses kontesnya ya, met puasa ;)

    BalasHapus
  6. Aku juga setiap mau puasa,ziarah mba ke makam nenek & kakek soalnya punya kenangan sama nenek terutama karena sebelum beliau meninggal minta di ajarin baca al-quran

    BalasHapus
  7. al fatihah utk ayahnya ya mbak..

    subhanallah mbak, Allah emang maha besar ya.. Sy juga py temen yg melahirkan anaknya secara prematur dg berat 1100 gr.. Sempet di inkubator lama juga setelah lahiran.. dokter udah prediksi aja kl umurnya gak akan lebih dr 2 tahun krn saking kecilnya.. kalopun tetep bertahan akan mengalami sejumlah kecacatan..

    Tp skrg anaknya udah seumuran anak sy, alhamdulillah sehat wal afiat. gak ada bedanya sm anak2 lain.. Kl kata temen sy, dia sih hy pasrah aja. Pokoknya melakukan yg terbaik aja utk anaknya. Sy yakin itu juga yg dilakukan orang tua mbak Mayya ya. Sehingga walopun mbak Mayya lahir prematur skrg tetep sehat spt sekarang :)

    BalasHapus
  8. hiks.. terharu.. jd kangen bapak di kampung. Alhamdulillah bpkku msh diberi kesehatan sampai skrg, walo sesekali sakit jg. Smoga msh ada kesempatan utkku berbakti..

    Mayya, bikinin mi rebus doooong... hihihi... :P

    BalasHapus
  9. cinta kasih orang tua memang ga berbatas ya, mbak
    bersyukur jg mbak masih bisa berbakti hingga saat2 terakhirnya. Saya mah boro-boro. Hehe

    sudah terdaftar sebagai peserta Hajatan Anak Pertama ya, mbak. Maaf, baru mampir. Terima kasih tas partisipasinya :)

    BalasHapus
  10. Duh...terharu bgt bacanya May.
    Gudlak ngontesnya ya, dan selamat menjalankan ibadah ramadhan :)

    BalasHapus
  11. @BlogS of HariyantoAku yakin almarhum bapak mas bangga akan mas sekarang ^_^

    BalasHapus
  12. @Nchie HanieSamalah enaknya sama buatan mbak hehehe...*ngeles*

    Amin...makasih doanya ya mbak...

    BalasHapus
  13. @Desi*hugs*

    Mudah2an ya mbak Desi!

    BalasHapus
  14. @DellaAmin...makasih ya mbak Della...met puasa juga...

    BalasHapus
  15. @AndyMudah2an kakek dan nenek mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya ya mas Andy...Amin...

    BalasHapus
  16. @ke2naiAmin..mudah2an anak temen mbak sehat dan normal seperti anak lainnya. Walopun aku sempat sakit2an, insya Allah makin besar, penyakitnya makin berkurang, hingga sekarang ^_^ Alhamdulillah...

    BalasHapus
  17. @covalimawatiPulang kampung besok pas Lebaran gak, Cova? Pasti bapak udah kangen ama Cova dan cucu2nya yang berdua ituh...

    Boleh, tapi kerumah dulu ya ;P

    BalasHapus
  18. @catatannyasulungMakasih udah didaftarin ya Lung! ^_^

    BalasHapus
  19. @OrinMakasih ya Orin...selamat berpuasa juga!

    BalasHapus
  20. udah baca postingan ini dari kemarin2, tapi gak tau harus komen apa ..

    selamat puasa ...

    BalasHapus
  21. @deyHehehe...gak apa apa, mbak...Dibaca aja aku udah bersyukur. Selamat puasa juga ya mbak ^_^

    BalasHapus
  22. Ya ampun Mbak Mayya, aku juga langsung kangen sama alm Bapakku baca postingan ini.
    Tapi beda sama Mbak Mayya, kalo aku anak bungsu. Lebih dekat sama Alm Bapakku, karena usiaku terpaut jauh dari kakak-kakakku. Jadi saat kakakku udah pada SMA, kuliah, aku masih jadi gadis kecilnya.
    Semoga Alm bapak kita diampuni dosanya ya, Mbak

    BalasHapus
  23. tulisan yang bener2 menyentuh hati mba... bikin aku langsung ingin menghambur ke pelukan ayahku yang sedang dirundung duka.... ingin kulipur laranya, ingin kuhapus dukanya... sekuat jiwa dan tenaga yang kupunya... #kok malah jadi curhat ya? :)

    semoga almarhum papa mba Mayya kini telah beristirahat dalam damai di sisi Ilahi Rabbi ya mba....

    I believe that he is proud of you and love you so much mba!
    btw, aku juga anak sulung lho! :)

    Met menjalankan ibadah puasa ya sist!

    BalasHapus
  24. @Indah KurniawatyAmin! Ayo kita kirimkan doa mbak Indah!

    BalasHapus
  25. @alaika abdullahAyo mbak jangan sia2kan kesempatan di saat Beliau masih hidup! ^_^

    *toss anak sulung*

    Mudah2an bulan Ramadhan ini lebih baik dari tahun kemarin ya mbak!

    Makasih yaaa!

    BalasHapus
  26. Wah saya jadi terhura dan terharu saat baca postingan ini mbak, saya doakan semoga papa mbak mendapatkan terbaik di sisiNya.Amin YRA

    Good luck ya ikutan kontesnya, semoga menang :)

    BalasHapus
  27. bisa ya di sangka istri muda...ada2 aja,,,

    BalasHapus
  28. cieeee anak kesayangan papa nya hehehe...
    tapi klo anak cewe paling besar cenderung lebih dekat sama papa yah.

    BalasHapus
  29. @SeagateAmin...Mudah2an mas, makasih yaaa...

    BalasHapus

Your thoughts greatly appreciated! Share it with us! (^_^)
Nowadays, I've been have hard times to reply comments or blogwalking to your blog. So, thank you so much for visiting me here!

Facebook

This blog is
Protected by Copyscape Plagiarism Detection
myfreecopyright.com registered & protected
DMCA.com
Copyrighted by Mayya.
Don't copy anything of this blog without any permissions.