//
- 4 Jul 2012

So Little, Yet So Loved

Manusia hanya merencanakan tapi Tuhan-lah yang menentukan

Selasa, 26 Juni 2012

Sore muncul pendarahan sedikit. Bukan flek, tapi darah.
Menenangkan hati.
Mungkin kecapekan.

Rabu, 27 Juni 2012

Pagi muncul flek coklat.
Siang muncul darah.
Sore muncul darah lagi.
Something wrong.
Hujan lebat dan angin kencang di luar.
Tidak bisa ke dokter.
Browsing artikel medis mengenai pendarahan trimester.
Perasaan sudah gak karu-karuan.
My baby...
My baby...
What happens with you?

Kamis, 28 Juni 2012

Pukul 10 pagi
Bergegas bersama hubby dan Little Bee pergi ke bidan dekat rumah.
Bidan sedang tidak ada.
Sarapan pagi sembari berdiskusi akan kemana.

Pukul 10.30

Selesai sarapan, mengantar Little Bee pulang.
Dititip ke adik bungsuku, Dyto yang sedang liburan di rumah.
Bergegas menuju Rumah Sakit terdekat.
Rumah Sakit Bersalin Sy.
Mendaftar pasien baru.
Menuju lantai 1 Klinik Kandungan.
Mendaftar lagi.
Ditanya:
nama,
tinggal dimana,
nama suami siapa,
kapan mens terakhir,
hamil keberapa,
normal atau caesar,
sudah berapa lama pendarahan,
pernahkah aborsi,
cek tekanan darah dan berat.

Pukul 12 siang
Dipanggil.
Diperiksa oleh Dokter X.
Ditanya mengenai detail pendarahan.
Cek USG.
Here we go.
Janinku tidak bergerak.
Berkali-kali sang dokter mengecek ulang,
dan akhirnya dokter berkata:

Denyutnya tidak ada, bu.
Janin ibu tidak berkembang..

BLANK

BLANK

BLANK

Duniaku tiba-tiba terbalik.
Innalilahi wa inna ilaihi rojiun.
Engkau sudah pergi, nak.

credit

+ Kami bertanya, apa penyebabnya.
+ Apakah karena Little Bee main-main di atas perut?

- Tidak, kata sang dokter.
- Itu tidak berpengaruh.
- Pendarahan terjadi sebelum atau sesudah si janin tidak berkembang.
- Pendarahan hanyalah proses tubuh mengeluarkan si janin tersebut.
- Janin tidak berkembang mungkin saja dikarenakan gen.
- Atau mungkin janin akan bermasalah jika tumbuh lebih jauh lagi.
- Sebut saja singkatnya, seleksi alam.
- Tidak perlu terlalu dirisaukan.

+ Tindakan medis apa yang harus kami lakukan, dok?

- Ada dua macam cara.
- Obat dan kuret.
- Namun karena janin masih lengket di rahim,
- saya sarankan dikuret.
- Karena jika janin lengket terus, pendarahan akan terus terjadi.
- Usaha dari tubuh untuk mengeluarkannya.
- Tak perlu cemas, karena sekarang kuret kami lakukan dengan menyedot.
- Jadi resiko kecil terhadap rahim.

+ Apa tidak bisa alami saja dok?

- Bisa, dengan obat.
- Namun kita tidak tahu hingga kapan janin akan dikeluarkan oleh tubuh.

+ Berapa lama hingga kami bisa program punya anak lagi dok?

- Sebulan.
- Kuret yang biasa butuh waktu 3 bulan untuk program lagi.
- Tapi karena ini disedot hanya butuh waktu sebulan.
- Bagaimana?

+ Kami akan diskusikan ini lagi dirumah dulu.

- Baik, untuk sementara saya akan resepkan obat dulu dan saya buatkan surat rujukan.

+ Oh ya, kira-kira berapa biayanya untuk kuret?

- Kira-kira 2 juta, sesuai dengan paket yang ada.
- Keseluruhan proses dilakukan hanya dalam 1 jam, walaupun penyedotan cuma 5 menit.
- Setelah itu boleh pulang, jika pengaruh bius dari ibu sudah agak hilang.
- Tidak perlu rawat inap.

+ Terimakasih dok, kami akan bicarakan dulu.

Pukul 12.30
Diskusi berdua sambil menunggu obat.
Rumah sakit ini bukan referensi askes suami.
Apa boleh buat, coba rumah sakit yang ditanggung asuransi.
Obat diterima.
Berangkat menuju kantor asuransi.
Mencari tahu informasi klaim lebih lengkap.
Harus mendapat surat rujukan dari klinik dokter keluarga.
Baru kemudian bisa merujuk ke rumah sakit referensi.

Pukul 13.30
Bergegas ke klinik terdekat dengan rumah.
Memperoleh surat rujukan baru.
Pulang.

Pukul 14.00
Minum obat dari dokter X.
Packing baju, pembalut dan sarung untuk dibawa ke rumah sakit.
Pukul 18.00
Bertiga meluncur ke rumah sakit.
Dengan motor tua kami.

Pukul 18.45
Tiba di rumah sakit rujukan.
Rumah Sakit Sa.
Mendaftar.
Sakit di rahim mulai terasa.
Mungkin karena minum obat tadi siang.
Menunggu di ruang klinik kandungan.
Little Bee mulai bosan.
Menunggu.
Sakit di rahim makin menjadi.
Menunggu.
Sakit di rahim makin menjadi.
Menunggu.
Sakit di rahim makin menjadi.

Pukul 20.15
Dipanggil dokter Y.
Memberikan surat rujukan.
Menunjukkan USG dari dokter X.
Menerangkan semua dari awal.
Kembali diperiksa.

- Ibu memang sempat hamil, tapi janinnya tidak berkembang. Harus dikuret.
- Coba saya periksa bekas operasi cesarnya.
- Kemarin operasi dimana ini?
- Hmmm, bekasnya terlalu tipis jaraknya antara rahim dan kantong kemih. Ckckckck...
- Jika dikuret, kemungkinan bekas operasinya akan terbuka lagi.
- Jadi harus dioperasi untuk menutupnya.

+ Perlukah rawat inap?
- Ya, ibu perlu rawat inap.

Kami sedang panik.
Tak terbayangkan bagaimana perasaan kami saat itu.
Dikuret.
Dioperasi lagi.
Rawat inap.
Kenapa jadi begitu ruwet?
Kenapa resikonya jadi begitu besar?
Hanya mengeluarkan janin kecil yang tidak hidup lagi?

+ Apakah ada jalan lain selain dikuret?
- Tidak ada. Hanya itu.

Ok, no option bagi kami. Ternyata update dunia kedokteran proses kuret dengan menyedot tidak
sampai ke dokter ini.

+ Kapan bisa dilakukan, dok? Istri saya sudah begitu kesakitan.
- Besok pagi, karena sekarang, anaknya (anak kami) rewel sekali.

What? Alasan apa itu?
Membiarkan pasien kesakitan padahal perlu tindakan medis secepatnya
KARENA ANAK PASIEN REWEL?

OK, let's get out from here
IMMEDIATELY!

Suami marah besar.
Istri sedang kesakitan dan dokter itu main-main dengan diagnosanya.
Kami juga tidak diresepkan obat sedikit pun.
OK, kami memang tidak bayar sama sekali.
Tapi jangan bermain dengan diagnosa pasien hanya demi mengeruk uang dari asuransi.
PLEASE!
Dikuret + Operasi menutup luka cesar + Rawat Inap kira-kira bisa hingga 10-15 juta
Bahkan kami tidak bisa menggendong bayi kami!

Suami mengambil keputusan.
Kembali ke rumah sakit Sy secepatnya.
Gak masalah gaji sebulan terpakai untuk ini,
kata suami.
Allah tidak akan menyia-nyiakan kita
Allah tidak mungkin membiarkan kita tidak makan sebulan.
Insya Allah akan ada rejeki yang lebih baik.

My hubby, you don't know how much I love you.
Engkaulah yang selalu ada disampingku.
Engkaulah yang akan mengorbankan apapun demi istrimu ini.
Aku begitu mencintaimu, sayang.

Pukul 20.30
Little Bee dan suamiku (juga aku) belum makan.
Mengingatkan untuk membeli nasi bungkus dulu.
Ketika sedang menunggu, tiba-tiba pendarahan hebat terjadi.
Darah tak berhenti mengalir.
Suami bagai roket menuju rumah sakit.
Aku panik.
Bukan karena pendarahan.
Takut karena motor yang dilaju begitu kencang.

Pukul 21.00
Tiba di rumah sakit.
Mengeluarkan surat rujukan dokter X dan kartu pasien.
Terburu-buru.
Panik.
Cemas.
Takut.
Semua jadi satu.
Ya Allah, kuserahkan hidupku di tanganmu.
Sekali lagi.

Dinaikkan ke kursi roda.
Menaiki lift.
Memandang suami yang menggandeng tangan Bee mungil-ku.
Dan memasuki ruang bersalin
Meninggalkan mereka berdua
yang berwajah sendu.

Perawat memberikan baju ganti.
Disuruh berbaring di tempat tidur.
Perut melilit.
Sakit.
Lebih sakit dari sakit mens.
Tidak lebih sakit dari melahirkan.

Perawat mondar-mandir.
Mempersiapkan perlengkapan.
Salah satunya sebuah lampu sorot seperti lampu meja.
Dan aku tahu itu gunanya untuk apa.
Tak lama,
Sepertinya semua sudah siap,
dan perlahan,
perawat satu-persatu keluar.

Waktu terus berjalan.

Dan aku masih sendiri di ruangan ini.

Ditemani dengan mulasnya perut
dan pendarahan yang tidak berhenti.


Pukul 21.30
Perawat bertanya
Apakah sudah buang air kecil.
Belum, kataku.
Lalu diarahkannya ke kamar mandi di seberang.
Aku masuk.
Dan tiba-tiba terdengar bunyi 'plung'.
Darahku tersirap.
Janinku-kah itu?
Jika ya,
aku ikhlaskan ia keluar dari tubuhku.

Seiring dengan tombol flush yang kutekan.

Dan aku kembali ke ruang bersalin.
Berbaring.
Menunggu.
Perut masih kontraksi setiap 5 menit.

Pukul 22.00
Dokter X akhirnya datang.
Bertanya, perutnya masih mulas?
Ya, jawabku.
Ia memeriksa.
Dan berkata pada perawat,
Rahimnya sudah bersih.
Berarti benar, yang tadi itu janinku.

Seorang ahli anestesi berada di samping kepalaku.
Membawa kotak.
Dan itu dia,
sebuah jarum suntik.
Ugh, aku seketika mual.
Aku benci jarum suntik.
Hal yang bisa kulakukan, hanyalah berpaling.
Berharap itu tidak menyakitkan.

Tanganku disuruh mengepal.
Dan ia menusukkan jarum infus di pergelangan atas.
Tidak sesakit yang kubayangkan.
Huff.
Dan aku bisa melihat,
Ketika ia menyuntikkan jarum suntik yang mengerikan itu
ke selang infusku.
Seketika itu juga pandanganku mulai buyar.
Bius ini cepat sekali bekerja, pikirku.
Tak sampai 5 detik, aku tak sadar.


Pukul 23.30
Terbangun.
Mimpikah aku?
Rasanya seperti baru saja bangun dari tidur yang begitu lelap.
Oh ya, ingatanku segera kembali.
Aku tidak bermimpi.
Sepi.
Tak ada lagi dokter.
Tak ada lagi perawat.
Penglihatan masih bergoyang.
Apa yang telah mereka lakukan di tubuhku?
Konyol,
Tapi aku benar-benar memeriksa semua detail badanku.

Bekas jarum infus tadi sudah diplester.
Perutku tidak sakit lagi.
Sama sekali.
Pendarahan sudah sedikit.

Tak lagi kurasakan sakit dan nyeri.

Seorang perawat datang dan berkata,
Ibu kalau sudah tidak pusing lagi,
bisa ganti baju dan boleh pulang.
Aku lega.

Aku teringat suamiku.
Mana suamiku?
Mana Little Bee-ku?

Tak berapa lama,
suamiku datang bersama Little Bee.
Ia menanyakan keadaanku.
- Bunda baik-baik saja.
+ Ayah, sudah makan?
+ Little Bee juga kan?
- Sudah, kami berdua sudah makan.

Ada satu masalah, katanya.
Kartu ATM tidak bisa dipakai.
Tidak terbaca di mesin ATM.
Ayah harus pulang ke rumah.

Pergilah pulang, yah.
Little Bee ditinggalkan saja dirumah bersama Dyto.
Ini sudah tengah malam.
Kasihan Little Bee.
Hati-hati.

Pukul 00.30 dini hari
Suamiku akhirnya datang.
Aku menukar baju.
Ia menyelesaikan administrasi.

Apa kita perlu panggil taksi, tanya suamiku.
Gak usah, bunda gak pusing lagi.
Ayo kita pulang.
credit
Selama perjalanan pulang,
Kupeluk erat tubuh suamiku.
Hari ini satu lagi ujian hidup yang kami lalui.
Bersama.
Dan lagi-lagi bersama motor bersejarah ini.

Aku bertanya,
apakah Little Bee rewel?
Susahkah ia makan?

Suamiku bilang,
Little Bee gak rewel, hanya bertanya-tanya terus,
Mana Bunda?
Mana Bunda?
Berulang-ulang.

Dan ia makan nasi dengan lahap.
Makan sendiri.

Aku bertanya lagi,
Tertidurkah ia ketika naik motor pulang tadi?

Little Bee itu pengantuk sekali di atas motor,
dan aku kuatir ia akan tertidur selama perjalanan.
Dan jika begitu, pasti suamiku akan kesulitan.

Little Bee gak tidur sama sekali, jawab suamiku.
"Little Bee jangan tidur ya, kita tunggu Bunda.", begitu pesan suamiku ketika naik motor
dengannya.
Dan alhasil, dari perjalanan rumah sakit hingga rumah,
sama sekali ia tidak tidur.
Padahal itu sudah tengah malam.

Betapa terharunya aku.
Di tengah kesulitan orang tuanya yang seperti ini,
ia benar-benar bisa diandalkan.
Oh, lelaki baik budiku.

Suamiku bercerita,
Ketika akan pulang kerumah tadi,
Ban motor bocor.
Alhamdulillah, bisa teratasi secepatnya dan bisa segera pulang.

Ya Allah, sungguh Engkau begitu sayang pada kami sehingga Engkau menguji kami dengan begitu
banyak cobaan.

Pukul 01.00 dini hari.
Tiba di depan rumah.
Membuka pintu.
Little Bee berdiri di depan pintu.
Ia ternyata masih belum tidur.
Menungguku pulang.
Seketika aku menggendong dan memeluknya.
Mencium dan berbisik di telinganya, "Makasih sayang, sudah menunggu Bunda pulang."

Aku tidurkan Little Bee.
Sekejap ia sudah tertidur di pelukanku.

Malam itu aku dan suamiku makan malam berdua.
Makan dini hari.
Perutku belum terisi semenjak siang ternyata.
Dan itu adalah makan malam teromantis kami.

Pukul 02.00 dini hari
Kupeluk tubuh suamiku yang beranjak tidur,
ia nampak begitu lelah.
Kubisikkan, "Terimakasih sayang untuk hari ini, selalu berada di samping Bunda, melewati semua ini."
dan kukecup pipinya dengan penuh haru.
Ia memelukku dan membelai kepalaku dengan penuh kasih.
credit
Ini adalah titik terendah hidupku.
Kesedihanku.
Begitu nyata dan menyakitkan.
Tidak seperti kata 'sabar' dan 'tabah'.
Tidak sesederhana itu.
Tidak semudah itu.


Aku tahu tiap bercermin nanti,
akan kulihat perutku yang kini tidak didiami makhluk mungil yang kunanti.
Yang telah kusiapkan nama untuknya.
Dan membayangkan apakah ia akan mewarisi kulitku atau hidung ayahnya.
Aku akan meneteskan air mata tiap mengingatnya.

Ia tidak akan pernah kulupakan.
Seumur hidupku.
Sepanjang umur kami.

Hujan dan guruh di hatiku, suatu hari akan berubah gerimis.
Dan gerimis pun akan reda.
Pelangi dan mega akan muncul,
menggantikan air mata yang telah tumpah.

Alhamdulillah ya Allah,
Engkau masih berikan aku kesembuhan dan kesehatan.
Engkau anugrahi aku dua orang lelaki yang begitu mencintaiku.
Aku yakin,rencana-Mu jauh lebih baik.




post signature

54 komentar:

  1. Mayyaaaaaaa.......
    *peluk erat*

    yang sabar say....
    di setiap cobaan yang menimpa qta Allah pasti punya rencana lain

    aq nangis bacanya May....
    rangkaian kalimat dan kejadian demi kejadian membuatku gak kuasa nahan airmata

    Alhamdulillah ya May....qta punya suami yang begitu sangat menyayangi dan mau berkorban demi kita

    peluk erat sekali lagi untukmu May....
    peluk erat juga buat Little Bee yg udah begitu sholeh

    BalasHapus
  2. ya ampun....
    sedih banget dan terharu banget gua ngebacanya may..

    once again, moga2 lu dan suami bisa kuat dan tabah ya...

    BalasHapus
  3. Ya Allah, aku bacanya sampe berkaca2 mba.. *peluukk*
    smoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan berkahnya untuk mba maya, suami mba maya dan little bee, amin...

    Smoga badai cepat tergantikan pagi yang cerah... :))

    BalasHapus
  4. aduh may, aku jadi ikut sedih bacanya.. yang tabah dan kuat ya may. di balik ini semua, pasti ada yang lebih baik menanti di depan. *peluk*

    BalasHapus
  5. Ya Allah ya karim, sabaaar yah ka.. yang tabah.. pasti jadi celengan di akhirat nanti yang bisa menolong orang tuanya. insya allah

    BalasHapus
  6. Mayyaaaa......
    bagaimana keadaanmu hari ini....?
    kok tiba2 aq pengen ketemu kamu Maaay.....
    *peluk erat lagi*

    BalasHapus
  7. dari kemarenan pengen komen susah banget... akhirnya bisa juga... mbak daku ikut berduka ya, memang sabar dan ikhlas tidak semudah yg diucapkan, tapi aku yakin Allah memberi ujian ini karena Allah melihat mba Mayya seorang ibu yg kuat.... peyuuukkkk

    BalasHapus
  8. innalillahi waa inna ilaihu roojiuun. turut berduka cita ya say...ikut nerasakan kesedihan yg mayya alami. dan bersyukur mndpt suami baik dan sangat sangat perhatian. smg cobaan disudahkan Allah berganti kebahagiaan buat keluarga mu.

    BalasHapus
  9. Halo Mbak Mayya.
    Jadi terharu baca ceritanya. Bener-bener kehadiran anak dan suami yang senantiasa di samping kita itu sangat penting ya.
    Aku juga pernah ngalemin seperti yang Mbak alamin.
    Janin gak berkembang, fleks dan akhirnya harus dikuret. Aku pikir kandunganku yang lemah tapi kata DSOG ku sih seleksi alam. Mungkin bukan bibit yang terbaik. Kalo bibitnya bagus, gakkan begitu. Dikuret, langsung pulang. Dan selang 2 bulan kali ya, aku udah hamil lagi kok. Kata DSOGku begitu setelah kuret, kita udah haid, maka itu artinya rahim kita sudah recovery dan siap untuk hamil lagi.
    *Peluk* Jangan sedih ya..semua pasti ada hikmahnya.

    BalasHapus
  10. Peluk mbak maya sama littel bee (peluk), mbak maya, pasti nanti di beri allah anak di waktu yang tepat, semuga cepet sehat kembali yaa mbak :D

    BalasHapus
  11. entah kenapa rajutan kata kata ini masuk sampai dihati.!

    BalasHapus
  12. Subhanallah, aku sampai sesenggukan ini bacanya. Untung kantor lagi sepi, lagi pada keluar. Nggak tiap ibu bisa sekuat dan setabah kamu, May.
    Semua yang Dia ambil, akan diganti dengan yang lebih baik, May. Insya Alloh.
    *Peluk dari jauh*

    BalasHapus
  13. Allah SWT sangat sayang pada keluarga Mayya....

    BalasHapus
  14. Meski nanti bisa hamil lagi, yang ini memang tidak akan tergantikan ya Mbak ...
    Insya Allah semua akan baik2 aja, keikhlasan memang perlu proses dan saya yakin Mayya bisa melewatinya.
    Jadikan Little Bee sebagai penguat diri.
    *peluk ...

    BalasHapus
  15. yang sabar ya mbak maya ... !! jadi sedih baca nya salut sama suami mbak yang begitu cekatan dan bertanggung jawab,
    mungkin TUHAN punya rencana lain ya mbak ! mungkin juga itu awal dari kebahagiaan mbak :D

    BalasHapus
  16. kak mayya, yang sabar ya. Allah pasti punya rencana indah dari semua cobaan ini. semangat :D

    BalasHapus
  17. @DiandraIni tisunya mbak...

    Insya Allah semua pasti akan baik-baik aja, ya kan mbak?

    *peluk erat mbak Diandra*

    BalasHapus
  18. @ArmanIya ko..makasih ya supportnya ko Arman..

    BalasHapus
  19. @Desi*peluuuk*
    Amin...makasih ya mbak Desiii...

    BalasHapus
  20. @NovaIya mbak..aku juga yakin begitu..Makasih ya mbak Nova...

    BalasHapus
  21. @DiandraUdah lebih baikan kok mbak...
    Aku juga pengen ketemuuuu...

    *peluk erat balik*

    BalasHapus
  22. @Bunda KanayaIya mbak...Insya Allah aku akan melewati ini dengan baik. Makasih ya mbak Rina...

    BalasHapus
  23. @Indah KurniawatyAku senang ada teman berbagi seperti mbak Indah. Makasih ya...aku jadi lebih baikan... *peluk*

    BalasHapus
  24. @Niar Ci Luk Baa*peluk*
    Iya mbak Niar..makasih ya...

    BalasHapus
  25. @Mayya Semangat kaka ;)
    #senyuuuuum...

    BalasHapus
  26. @DellaIni tisunya mbak...AMIN...Insya Allah... *hugs thight*

    BalasHapus
  27. @rodamemnInsya allah..Mudah2an mbak.. ^_^

    BalasHapus
  28. @deyMbak benar...setiap anak adalah spesial buatku (dan pasti juga untuk ibu2 lainnya) walaupun belum lahir ke dunia.
    Makasih supportnya ya mbak...

    *peluk*

    BalasHapus
  29. @lizaMakasih ya mbak Liza...Insya Allah...

    semangatttt...

    BalasHapus
  30. mba Mayya.... lama tidak kesini, ternyata dirimu sedang dalam cobaan Ilahi Rabbi.... doaku setulus hati, semoga dirimu, hubby and little bee akan mampu menjalani setiap cobaan ini dengan penuh ketabahan dan kesabaran ya mba....

    semoga kelak, Allah segera memberikan adik yang lain bagi little bee, yang lebih sehat dan kuat di dalam rahim ibunya.... amin...

    *bighug and kiss mba Mayya..... , maaf ya aku baru datang.... :(

    BalasHapus
  31. Maaaayyy... *speechless* *nyari tisu*

    BalasHapus
  32. @alaika abdullahAmin...Makasih banyak ya mbak, pengharapan mbak bener2 sampai di hatiku... *hug and kiss*

    BalasHapus
  33. Peyuuuk Mba Mayya... *hugs

    BalasHapus
  34. #sesenggukanbacanya..
    there wud be a rainbow after the rain mba..just believe it.. *hugs...

    BalasHapus
  35. @Tita OktiYes, I believe that to... *hugs*

    Makasih ya mbak...

    BalasHapus
  36. Sudah banyak kata2 disini, hanya ingin memelukmu mba *peluk*

    hanya itu... aku tertegun membacanya dan berkaca-kaca.....*_*

    BalasHapus
  37. baru baca yang ini *hugs/..and your little boo is coming now... ^^ be happy sist

    BalasHapus
    Balasan
    1. *hugs
      Allah memang Maha Tahu apa yang terbaik :)

      Hapus
  38. kak mayya ternyata pernah ngalamin ini..... Insyallah nanti ia menjemput kak mayya di surgaa ^^

    BalasHapus
  39. Dear Mba Mayya... Baca ini jadi merasa punya teman senasib ;-(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga pelangi segera menggantikan hujan di hati mbak yaaa *hug*

      Hapus

Your thoughts greatly appreciated! Share it with us! (^_^)
Nowadays, I've been have hard times to reply comments or blogwalking to your blog. So, thank you so much for visiting me here!

Facebook

This blog is
Protected by Copyscape Plagiarism Detection
myfreecopyright.com registered & protected
DMCA.com
Copyrighted by Mayya.
Don't copy anything of this blog without any permissions.