//
- 11 Feb 2013

Gapailah Mimpimu, Bunda!

Menikah di usia dua puluh tiga tahun adalah salah satu impian terbesar saya. Menemukan si-pemilik-tulang-rusuk di usia muda adalah hal yang sangat saya impikan.

Namun setelah itu, ternyata banyak yang harus 'dikorbankan'. Meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, penghasilan sendiri dan berkumpul bersama teman-teman, harus dimasukkan ke dalam kotak mimpi yang entah kapan bisa dibuka.

Dan ada kalanya, saya merasa jenuh sejenuh-jenuhnya, bosan sebosan-bosannya.

credit

Alkisah di awal tahun 2012, saya pernah curhat pada suami, sebagian perempuan mengatakan bahwa mereka akan menikah setelah menggapai impiannya. Lalu bagaimana dengan perempuan seperti saya yang menikah sebelum mimpi saya terwujud? Apakah menggapai mimpi setelah menikah itu mustahil? Apakah setelah menikah itu artinya, hidup saya akan mengabdi seratus persen untuk suami dan anak-anak dan harus mengesampingkan impiannya sendiri? Saya pikir, itu bukanlah hal yang adil untuk perempuan. Perempuan bukanlah budak, bukanlah pembantu, apalagi hanya sekedar pengasuh. Perempuan adalah manusia yang juga memiliki mimpi.

Suami hanya berkata seperti ini, "Ada dua tipe suami. Suami yang mendukung istrinya dan suami yang tidak."

"Jadi, ayah yang mana satu?"
"Nggak, bunda yang kasih tahu ayah! Bunda itu cerminan ayah, jadi bunda yang kasih tahu. Jadi, sekarang, gapailah mimpi bunda dan kita lihat, ayah adalah suami yang tipe apa..."

Kata-kata itulah yang merupakan bahan bakar seorang Mayya bisa sampai ke tahap ini, mulai merintis mimpi-mimpinya.


Tiap bulan, suami yang tahu bahwa istrinya ini orang yang introvert, susah bergaul dengan tetangga, sulit memulai percakapan dan merasa linglung di tengah orang banyak, mengerti bahwa satu-satunya hal yang istrinya bisa lakukan hanyalah menulis di blog, selalu mengisi pulsa modem internet untuk istrinya.

Tahu bahwa satu-satunya laptop kesayangan si istri terpaksa ditinggalkan setelah menikah dengannya, ia belikan yang baru walaupun nyicil.

Dan baru-baru ini, ia tahu istrinya jarang berkomunikasi dengan dunia luar, ia pun membelikan Blackberry untuk istrinya, agar bisa berbincang-bincang dengan teman dunia maya.

Ide dan postingan fiksi yang ada di blog ini pun tak lepas dari campur tangan suami. Kadang ketika menulis fiksi dan mentok, suamilah yang memberikan ide-ide out of the box.

Berbagai project seperti Digiscrapbook Gratis, #belajarAI maupun yang baru akan dilaunching di bulan Maret, beranicerita.com mendapatkan dukungan seratus satu persen dari suami.

Begitupun jika mengikuti lomba menulis atau giveaway, orang pertama yang dimintakan doa pastilah dari suami. Bahkan terkadang, jika ada naskah yang harus dikirimkan atau kebutuhan dokumen yang diperlukan, suamilah yang turun tangan.

Didera perasaan rendah diri akibat kisah masa lalu, sedikit demi sedikit dengan dukungan suami, saya bisa lebih percaya diri. Suami saya telah mengajarkan bukan hanya kasih sayang dan cinta tapi juga menghargai diri sendiri.

Sama seperti ketika saya bertanya pada suami mengenai keputusan saya untuk berhenti bekerja, suami hanya bilang bahwa, "Apa yang membuat bunda bahagia, lakukanlah...Ayah akan mendukung."

Ketika orang lain mempertanyakan dan menyesalkan keputusan saya menjadi ibu rumah tangga, karena di sisi lain saya bisa saja bekerja di perusahaan minyak dunia, suami saya tidak pernah mempertanyakan dan meragukan keputusan yang saya ambil.

Bahkan ketika saya harus menghadiri pernikahan teman kuliah yang kini kehidupannya jauh di atas dan membuat saya rendah diri karena saya 'hanyalah' ibu rumah tangga tanpa penghasilan, suami-lah yang menyadarkan diri saya, 

"Bunda bukanlah karena bunda bekerja disini atau disitu. Bunda adalah bunda, istri ayah dan ibu-nya Little Bee. Tak perlu merasa malu karena ia bekerja disitu dan bunda tidak, karena bunda tidak diukur dari situ. Harusnya bunda bangga pada diri sendiri."

Dan kami tetap pergi ke pernikahan itu, dengan saya yang merasa bangga, memiliki suami seperti dirinya.

Rasanya mustahil saya bisa sampai disini kalau tidak karena nasehat dan dukungan suami.

Walaupun saat ini, impian saya masih sedang dirintis, saya bisa dengan bangga berkata bahwa suami saya adalah tipe suami yang pertama.
***

Suami bukan hanya pendamping hidup, namun ia benar-benar pemilik tulang rusuk saya.

Ia tahu bahwa saya, sang tulang rusuk, akan patah jika diluruskan. Namun ia menerima 'kebengkokan' saya yaitu kekurangan saya menjadi kelebihan dari dirinya.



***
Posting ini diikutsertakan pada Give Away Perdana Dellafirayama, seorang ibu labil yang tidak suka warna hijau dan hitam
post signature

19 komentar:

  1. so sweet... :)

    tapi suami istri emang harus saling mendukung kan ya... :)

    BalasHapus
  2. so sweet maya....semoga mimpi berikutnya tercapai my, dengan dukungan dan doa suami. btw, mimpi saya dulu jadi penulis tapi tenggelam selama 10 tahun, eh setelah menikah malah suami yang mengobarkan kembali semangat saya untuk menulis, selalu mendukung dan menghibur walaupun tulisan selalu di tolak media.

    BalasHapus
  3. uuhh pagi2 baca ini jd melting.. so sweet mayy..
    kapann yaa aku bisa sama2 tulang rusukku tiap harii #lohhkokcurcol :p

    mayy mayy, kita kok sama sihh, introvert.. doyannya depan laptop. makanya itu bisnis online ekeh udh klop bener deh.. qiiqiqiq...

    BalasHapus
  4. aaah, bagus sekali ceritanya Mba May. Sukses ya giveawaynya *meskipun saya juga ikutan di sana*
    Hehehe

    BalasHapus
  5. Mayyaaaaaa.. jangan pernah bilang 'hanya' ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga itu mulia banget, tauuuuu.. >.<
    Bahagianya Little Bee punya orang tua yang saling melengkapi :)
    Sudah aku catet ya, dan udah diapdet di daftar peserta. Moga beruntung :)

    BalasHapus
  6. Allhamdulillah punya suami yang pengertian ya.

    BalasHapus
  7. so sweeettt...
    tetep bangga pada diri sendiri May ..
    semangat !!

    BalasHapus
  8. Wah begitu yah..
    Aku juga sebentar lagi menikah, malah diusia yg lebih muda dari 23thn, wekekeke. Tapi justru impianku itu baru bisa tercapai kalau aku menikah.

    Tetap semangat yah ^_^

    Jangan menyepelekan jadi ibu rumah tangga, justru ibu rumah tangga itu penentu pencetak generasi hebat. Kalau ibunya hebat insyaAlloh anaknya juga hebat :)

    ah padahal aku belum jadi ibu rumah tangga *dilempar sendal* :D


    BalasHapus
  9. heumm,hujan2 gini baca tulisan mbk mayya rasanya teduh bangett..alhamdulillah,baarakallahulakuma..semoga keluarga mbk mayya sll diberkahi aminnn.... :D

    BalasHapus
  10. Manis sekali kak, didukung suami :)
    Tetap perjuangkan mimpinya Kak, melalui tulisan misalnya :)

    BalasHapus
  11. subhanallah *o* ini ceritanya so sweet sekali mbak Mayya...
    ini bisa jadi pelajaran dan nasihat yang baik buat yg masih lajang (sy khususnya hehee)...
    Sukses mbak GAnya ^o^

    BalasHapus
  12. hiks terharu bacanya :(
    Klo udah nikah emg mesti gitu yah may, ikut suami aja apapun yg terjadi :)

    Semoga sama2 menang yah :p

    BalasHapus
  13. namanya berumah tangga, begitulah.. :)

    BalasHapus
  14. Aku merinding membacanya, mbak. ALhamdulillah mbak Mayya punya suami yang mendukung Mbak Mayya. Semangat, Mbak.

    BalasHapus
  15. huhuhu aku terharu bacanya mba Mayy... :,)

    betapa doa dan dukungan suami bisa bikin hidup kita lebih indah lagi.. ;))

    BalasHapus
  16. Mengikuti suami setelah menikah, memang akan menjadi awal yang indah dalam kehidupan keluarga
    ^_^

    BalasHapus
  17. terharu.. tapi memang suami itu adalah sosok pertama yang melogikakan emosi istri. ibuku ibu rumah tangga.. yang sangat aku acungi jempol waktu bantu ngasuh Arya kalau aku tinggal kerja. salah satu kelebihan bukan? *big hugh untukmu*

    GA ini aku lewat. draftnya ilang diwaktu mepet banget. hiks.. *curhat*

    BalasHapus
  18. kalau kata'a istri Shakespeare yaitu Anne Hathaway, suami itu sebagai badan sedangkan istri itu kepala, jadi badan bisa bergerak sesuka hati, jika di arahkan oleh bagian kepala yaitu istri

    BalasHapus

Your thoughts greatly appreciated! Share it with us! (^_^)
Nowadays, I've been have hard times to reply comments or blogwalking to your blog. So, thank you so much for visiting me here!

Facebook

This blog is
Protected by Copyscape Plagiarism Detection
myfreecopyright.com registered & protected
DMCA.com
Copyrighted by Mayya.
Don't copy anything of this blog without any permissions.