//
- 23 Mei 2013

[Berani Cerita #12] Sepatu dari Ibu

Aku menoleh ketika pintu depan berderit. Kulihat wajah letih ibu muncul di baliknya. Lantas, aku bergegas ke dapur, menyeduh teh dari termos tua ke gelas berisi gula yang telah kusiapkan semenjak tadi.


"Sudah makan, Nak?" Ringkih sehabis pulang mencuci ke rumah tetangga tetap tak mengurangi perhatiannya kepadaku.

"Belum, Bu. Nunggu ibu pulang, supaya kita makan sama-sama..." seraya kusodorkan teh hangat itu kepadanya.

"Lain kali, makanlah dulu. Ibu tahu kamu pasti lapar sepulang sekolah, Rin..." ia menyeruput teh.

"Gak apa-apa, Bu," kuurut-urut bahunya yang mungil dan terlihat renta.

Ia menyodorkan sebuah plastik kresek hitam. "Ambillah, tadi diberi Bu Sis, bekas tapi masih bisa kamu pakai. Alhamdulillah.... Ibu lega karena masih ada yang berbaik hati. Tahun ajaran ini ibu tinggal memikirkan buku-buku barumu saja." Ia tersenyum, memperjelas kerut-kerut di sudut matanya.

Aku menerima pemberian ibu dan melongok ke dalam plastik, sebuah sepatu merah jambu dengan lubang disana-sini.

[caption id="" align="aligncenter" width="300"] credit[/caption]

Seketika mulutku ingin melontarkan sesuatu, tapi kuurungkan.

"Makasih banyak, Bu!" kata itulah akhirnya yang keluar dan kukecup pipinya.

***


Pagi itu, sengaja aku datang pagi. Bukan karena itu hari pertama masuk sekolah.
Bangku paling belakang adalah posisi tepat menyembunyikan kehadiranku.

Bel masuk berbunyi dan pelajaran demi pelajaran berjalan dengan lancar. Tadinya.
Tapi ternyata di jam pelajaran terakhir, bahasa Inggris semua itu buyar.

"Well, I will call you one by one and introduce yourself in front of class!" Miss Santi membuka percakapan.

Dan begitulah, ia menyebut nama kami satu persatu. Mulai dari abjad A, B, C ... hingga namaku disebut.

"Rinto Purnama! Please come here and say anything about you!"

Aku melangkah maju dengan hati-hati. Begitu pelan seolah-olah lantai akan surut karena langkahku.

"Rinto , bagus banget sepatumu! Pink, cyinnn!" sebuah suara dari sudut kelas sontak membuat seisi kelas tertawa.

Jantungku merosot. Ah, Ibu.

6 komentar:

  1. Hahahaha... cool ending!! Btw, salam kenal, nggak sengaja nemu blog ini pas blog walking :)

    BalasHapus
  2. Thanks mbak Swastika, salam kenal juga ya :)

    BalasHapus
  3. keren kok cyiinnnn....meski pinky-pinky githcu... :lol:

    BalasHapus
  4. Wah ceritanya mengalir banget mbak.

    BalasHapus

Your thoughts greatly appreciated! Share it with us! (^_^)
Nowadays, I've been have hard times to reply comments or blogwalking to your blog. So, thank you so much for visiting me here!

Facebook

This blog is
Protected by Copyscape Plagiarism Detection
myfreecopyright.com registered & protected
DMCA.com
Copyrighted by Mayya.
Don't copy anything of this blog without any permissions.