31 Mar 2014

Cerita Persalinan Little Boo - Part 1

Gak terasa, si baby Boo udah hampir 5 bulan. Udah suka ketawa-tawa dan melet-melet lidahnya dengan super duper cute. Well, rambut saya mulai rontok. Galau sih, tapi dulu waktu Little Bee juga begitu, jadi dibawa santai aja, gak bakalan botak kok hihihi....

Di tulisan ini mau cerita dulu mengenai proses persalinan Little Boo. Nah, akibat apdet blog yang bawaannya males mulu, mungkin ceritanya bakalan flashback lagi ke kehamilan trimester ketiga, takut ntar klo udah kelamaan bakalan lupa, bok!

***

Dilema persalinan antara normal vs cesar di kehamilan bulan keenam makin bertambah galau di kehamilan trimester terakhir. Hubby lebih condong ke cesar karena kuatir persalinan normal bakalan macet seperti persalinan Little Bee, takut kalau ibu dan bayinya kenapa-napa. Iya sih, wajar hubby punya pemikiran seperti itu karena dulu pernah terjadi dan pasti doi trauma kali ya lihat istrinya kesakitan setengah hidup. Tapi beginilah, kalau istri pun keras kepala seperti eyke, kekeuh mau persalinan normal juga. Dan itulah selalu menjadi topik perselisihan pendapat kami berdua.

Awalnya, check up regular selalu di dr. A karena dekat rumah dan RS si dokter untuk tindakan persalinan adalah RS yang merupakan tanggungan asuransi kantor hubby. Beliau tetap menyarankan untuk operasi cesar setelah 2 atau 3 kali kami menanyakan tentang kemungkinan persalinan normal. Namun, penyampaian sang dokter yang menakut-nakuti kami terutama suami, menceritakan salah satu pasiennya yang akhirnya setuju untuk operasi cesar dan ternyata ketebalan rahim pada bekas operasinya hanya 1 mm. Jika sang ibu tadi memaksa persalinan normal, tentu akan fatal akibatnya. Bagi saya, kondisi tiap pasien tentu berbeda, gak bisa dipukul rata. Illfeel-lah saya ceritanya.

Lagipula selama 4-5 kali pemeriksaan, tak sedikitpun sang dokter memeriksa berapa berat badan atau besar lingkar kepala si jabang bayi. Berbeda 180 derajat dengan dokter-dokter lain yang pernah kami temui! Lalu alasan kuat bagi saya untuk operasi cesar juga tidak dijabarkan secara gamblang, faktor apa yang menyebabkan saya harus operasi lagi, saya jadi makin tidak yakin. Disini, saya memaksa suami untuk mencari dokter lain di RS yang sama. Harus!

Belakangan, setelah Little Boo berumur beberapa bulan, barulah saya tahu dari tetangga satu perumahan, bahwa si dr. A ini sudah terkenal dengan nama "Dokter Cesar" karena tiap lihat pasien, pengen cesar mulu. Matre ini mah si dokter! *bekep pake stetoskop

si pipi gembil 32 minggu

***
Balik lagi ke cerita, dengan berat hati, tapi karena rasa cintanya ke istri, hubby pun mencari dokter lain. Kami menemui dr. B. Dokter ini lebih baik dan lebih telaten memeriksa. Saya pun jadi berharap banyak dari dokter ini agar bisa memperoleh jawaban atas proses persalinan, berharap bahwa ia bisa mendukung saya untuk dapat melakukan persalinan normal. Rasa-rasanya seperti menghadapi ujian semester kali yaaaa...*lap keringat* Berat badan, lingkar kepala, posisi bayi dengan jelas diterangkan sang dokter. Ketika pertanyaan mengenai bisa atau tidakkah menjalani persalinan normal, kembali sang dokter menjawab: "Kita coba dulu ya, Bu, tapi biasanya akan cesar lagi kalau persalinan pertama itu cesar."
Lemaslah badan rasanya.

Memang dasarnya keras kepala, tetap aja belum puas dengan diagnosa dr.B. Debat lagi dengan hubby. Nah, debatnya kian seru, karena perkiraan due date ternyata lewat dikit dari masa berlakunya asuransi kantor. Hubby tentu yakin kalau dengan cesar, kami bisa menentukan tanggal operasi tanpa keraguan, PASTI akan ditanggung asuransi. Kalau tetap harus menunggu persalinan normal, tentu saja, harus nunggu si dedek bayinya pengen keluar doang ya, jadi tanggalnya bisa saja lewat dari masa berlaku asuransi kantor. Dan begitulah, hubby mikirnya sesuai logika, istrinya mikir sesuai perasaan *tsaaahhh...Ego masing-masing beradu pendapat deh, mirip debat pilkada, mamih!

***
Makin kesininya makin stres. Kehamilan sudah hampir due date tapi masih belum menemukan dokter yang sreg di hati. Hati udah kebat-kebit gak menentu. Rasanya sudah seperti single fighter deh untuk kehamilan yang ini. Tiap sholat atau mengaji pasti udah meleleh tuh air mata karena udah gak tahu harus bagaimana lagi. Satu-satunya cuma meminta petunjuk dari Yang Diatas. Diserahkan deh semuanya ke Yang Maha Tahu.

Mulai mencari informasi tentang persalinan normal setelah cesar, yang belakangan diketahui istilahnya Vaginal Birth After Cesarian atau dikenal dengan VBAC.

Iseng-iseng googling, dengan keyword : VBAC Pekanbaru, walaupun gak terlalu berharap banyak (karena biasanya informasi mengenai Pekanbaru, masih sedikit sekali) tapi ternyata di halaman pertama, muncullah secara ajaib, blog seorang dokter VBAC di Pekanbaru! Doa saya terjawab sudah!

Dengan konfirmasi oleh salah satu kolega kantor terdahulu, semakin yakin untuk memeriksakan kehamilan ke dokter tersebut, berharap bahwa inilah dokter yang terakhir setelah kesekian kali.

Di week 38, kembali memeriksakan diri. Kami dikasih detail lengkap mengenai bagaimana dan apa yang harus dilakukan agar bisa persalinan normal. Berat si dedek sudah 2,7 kg dan targetnya 2 minggu lagi persalinan, sebelum due date. "Banyakin jalan, makan buah, meras ASI dan xxx sebagai pemacu kontraksi alami. Gak boleh diinduksi atau konsumsi rumput fatimah..." begitu petuah pak dokter.

Kabar baik berikutnya, bahwa masa berlaku asuransi kantor diperpanjang, sehingga kami tidak perlu kuatir lagi akan pertanggungan kelahiran si adek.

***
Mini He-Maaaannn!
Setelah dua minggu, setelah rajin jalan setiap pagi dan mencoba memeras ASI (yang keluar cuma seuprit) tetap belum ada tanda-tanda kontraksi. Hanya nyeri di daerah bawah.
Pemeriksaan berikutnya, berat si dedek udah 3,0 kg, dokter pun menunjukkan wajah sedikit kuatir. Duh!
Akhirnya dilakukan pemeriksaan dalam, seperti pemeriksaan bukaan. Lalu dokter bilang bahwa si dedek masih jauh dari mulut rahim, sedangkan beratnya sudah mencapai 3,0 kg. Jika ditunggu lagi, beratnya akan terus bertambah. Dokter pun memutuskan bahwa saya harus operasi lagi. Perasaan saya melorot, hiks!
Entah karena prihatin melihat wajah saya yang putus asa, si dokter bertanya,  "Kenapa takut operasi, Bu?"
Lalu saya jelaskan kalau pemulihan operasi itu lama, bisa 4-5 hari baru bisa jalan.
Yah, tentu saja dengan adanya bayi yang baru lahir dan si abang yang juga harus diurus, mau gak mau saya gak bisa lama-lama di tempat tidur. Mengandalkan mertua yang sudah tua bukanlah opsi. Saya gak tega lihat mertua yang sibuk sana-sini, sedangkan saya hanya bisa terbaring, gitu.
Ketika dokter berkata bahwa pemulihan dari operasinya hanya 2 hari, mata saya mungkin langsung berbinar-binar seketika. Antara percaya dan gak percaya.

Saat itu juga kami sepakat dengan dokter untuk operasi di hari work off-nya hubby, hari Selasa, 29 Oktober. Saya sudah ikhlas sepenuhnya akan menjalani operasi sekali lagi. Dokter memastikan untuk booking kamar dan jadwal operasi ke RS yang menjadi rujukan kami, karena ditakutkan tidak mendapatkan kamar.
***

Tentu, selain kesiapan mental saya, yang perlu dipikirkan adalah siapa yang menjaga Little Bee selama saya masih di Rumah Sakit. Berhubung kami akan mendapatkan ruang kamar kelas III dimana satu kamar dihuni enam pasien, tidak memungkinkan membawa Little Bee ke RS. Akhirnya disepakati bahwa hubby akan menemani saya selama di RS dan Little Bee harus ditinggal bersama neneknya dirumah. Memutuskan Little Bee berpisah dari saya rasanya ada lubang besar di dada, karena semenjak saya berhenti bekerja, kami selalu bersama-sama. Tiada hari yang dilaluinya tanpa kehadiran saya. Apakah ia akan menurut pada neneknya? Apakah ia akan menangis mencari-cari saya? Apakah begini? Apakah begitu? Takut hal ini menjadi beban pikiran saya selama proses operasi, maka saya harus yakin bahwa Little Bee akan baik-baik saja. Berulang-ulang kali saya katakan padanya menjelang hari H bahwa ia harus tinggal bersama nenek di rumah, ia harus menjaga dan menurut pada neneknya. Bunda harus pergi ke RS karena si adik mau lahir, ayah harus temanin Bunda karena perut bunda sakit. Nanti kalau adiknya udah lahir, Bunda dan Ayah pulang. Begitu petuah saya padanya. Saya juga memastikan tiap hari akan menelpon.

***

Hari Senin, 28 Oktober, siang hari, suami menelpon bahwa belum bisa booking kamar karena keribetan prosedur asuransi yang harus dijalani. Informasi ini diperoleh dari agen asuransi kantor. Tidak begitu percaya dengan info tersebut karena tidak didapatkan langsung dari RS, maka saya mencoba menelpon ke RS tapi tidak diangkat-angkat operator. Mau tidak mau harus saya sendiri datang ke RS. Suami tidak bisa mendapatkan ijin keluar dari kantor karena sudah jam kantor. Dan begitulah, cobaan sekali lagi datang. Dengan perut besar dan membawa Little Bee, saya berangkat ke RS yang lumayan jauh dari rumah menggunakan taksi, setelah mengurus surat rujukan dari klinik keluarga referensi dari asuransi. Selama perjalanan, mental dan hati saya rasanya diaduk-aduk. Saya tahan-tahankan untuk tidak menangis. Menguatkan hati bahwa berkah sang adik kelak akan lebih berlipat-lipat dari ini. Bahwa semua ini tidak ada apa-apanya dibandingkan anugrah seorang bayi yang dinanti-nantikan. Kami yakin, pasti bisa melalui ini semua dengan tabah.

Sekitar jam 3 sore, sampailah saya di RS dan bergegas ke lobi. Resepsionis memberitahu saya agar mendaftar di bagian pendaftaran kamar di lantai bawah. Dengan berbekal kartu asuransi dan surat keterangan tindakan dari dokter, petugas mencatat dan mendaftarkan saya.Saya disuruh datang jam 9 pagi dan mendaftar ke bagian IGD. Ternyata prosesnya hanya 5 menit! Segera saya menelpon suami mengabarkan bahwa booking kamar sudah dilakukan. Leganya kami berdua. Saya dan Little Bee pun pulang via bus trans metro Pekanbaru.

Apapun yang bisa terjadi besok, terjadilah. Saya pasrah sepenuhnya pada Yang Maha Kuasa.

Little Boo, umur : 4 bulan, hobi : ngemut kaki!


bersambung nih ceritanya, aunty dan uncle ke part 2!


post signature

22 komentar:

  1. mba may, dokter cesar nya suka joget2 juga sambil bilang Keep Smiiiillleee gitu ga? :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakaka....ntar dedek bayinya ikut-ikut joget ntar mbaaaak! =))

      Hapus
  2. jadi ceritanya antara Pekanbaru dan Tangerang sama2 deg-degan nunggu kelahiran tuh..hehehe..
    bulan depan cerita MPASI deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betuullll, tunggu di part 2 yak!
      Horeee bentar lagi MPASI!

      Hapus
  3. agak repot kalau mengikuti prosedur asuransi ya, btw sepreinya sama tapi beda warna :0

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, repot memang, tapi worth it karena semua ditanggung :)

      Hapus
  4. Ditunggu cerita selanjutnya yah May :)

    BalasHapus
  5. Aku juga VBAC kemaren, May :)
    Ah ini penasaran nunggu kelanjutannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, mantep mbaaaak!
      Tunggu tanggal mainnya ya!

      >> ini bales komen udah 2 bulan baru dibales *pletak!

      Hapus
  6. prosedir asuransi sebenarnya tergantung paket. Alhamdulillah dikantor gak ribet mkarena memang paketnya yang bikin gak ribet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mau nawarin asuransi bang?

      Hapus
  7. Kyknya dokter kandungan indo emang gampang bgt dikit2 suruh cesar, tp aku jg kmrin anak ke 2 lahiran cesar, krn anak pertama dah cesar, krn udh ada luka lama dan ga mau resiko katanya, apalagi wkt itu aku sempat pendarahan yg bikin fa jd lahir prematur, tp ditunggu next story nya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting si bayi sehat ya mbak Ristin :)

      Hapus
  8. Mayaaaaa .... pa kabar?

    lama banget ih de gak ninggalin jejak di sini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah baik, aku harap mbak sekeluarga juga yaaah!
      Ah, aku juga udah jarang banget BW mbaaak!

      Hapus
  9. eka..
    ini mana sambungannya... ^_^

    Ayo tebak aku siapa.. -LM-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...baru mau dipublish besok, ditunggu ya say...

      Cie cie yang lagi hamil muda nih yeeee *ya tahulah siapa buteeet*

      Hapus
  10. wah lucunya, anakku sekarang udah 4 bulan 2 hari, tp msh blm ngemut kaki :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabaar...tunggu tanggal mainnya ngemut kaki mbak hehehe :)

      Hapus
  11. yang penting semua sehat dan selamat kan mbak :) cium buat little bee dan baby boo :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, itu yang terpenting :)
      Peluk cium dari bee dan boo (k)

      Hapus

Your thoughts greatly appreciated! Share it with us! (^_^)

Followers

This blog is
Protected by Copyscape Plagiarism Detection
myfreecopyright.com registered & protected
DMCA.com
Copyrighted by Mayya.
Don't copy anything of this blog without any permissions.