//
- 17 Nov 2014

Seandainya #ChildAbuseAwareness #StopChildabuse

Aku tak pernah tahu bahwa pukulan dan makian yang diterima dirumah bukanlah bentuk kasih sayang. Justru setiap itu terjadi, selalu ada perkataan, "Karena sayang padamu, maka kamu harus menerima ini..."

Dan aku tumbuh besar dengan menerima bahwa aku memang tidak cukup baik. Bahwa aku tidak bisa melakukan ini dan itu dengan baik. Bahwa kalau tidak juara 1 di sekolah, aku bodoh. Bahwa  aku terlalu banyak main dan malas belajar. Bahwa aku tidak bisa diandalkan. Bahwa aku tidak pantas dilahirkan. Bahwa aku selalu menyusahkan. Bahwa aku tidak bisa berteman. Bahwa aku tidak perlu hidup lama. Bahwa aku tidak pantas untuk apapun. Bahwa aku tidak berharga untuk hidup. Dunia lebih baik tanpa kehadiranku.

Dari semua itu, yang paling menyedihkan adalah melihat teman-teman lain merasakan kasih sayang yang berbeda. Teman dekat di SD menelpon ibunya, "Bunda,tolong jemput aku ya disekolah..." Rasanya panggilan Bunda saat itu adalah suara seindah surga ditelingaku.
Ketika menunggu angkot pulang SMA, melihat seorang teman dijemput, lalu mencium tangan ayahnya. Aroma seperti apa tangan orang tua? Syahdu sekali di hati.
Pergi tarawih sendirian, lalu melihat sepasang suami istri dan putranya bergandengan tangan, lalu berpikir, Ah, apakah besok aku bisa merasakan apa yang mereka rasa.
Menginap dirumah teman, menikmati setiap tawa dan canda antara ia dan ibunya.
Ketika ibu mertua yang saat itu masih calon, memeluk dan menciumku, rasanya aneh tapi begitu menenangkan. Jantungku berdentum-dentum bahagia.

Bahkan hingga kini pun, telah beranak dua, selalu terharu jika si bocah berkata, "Aku sayang Bunda..."

***

credit


Satu-satunya harta yang kubawa pergi meninggalkan rumah adalah kitab suci Alqur'an. Satu-satunya keyakinan  yang selalu mengingatkan bahwa Allah sayang padaku. Berapa banyakpun pukulan, berapa ribuanpun cacian, hanya harta itulah yang selalu mencegah berpikiran buruk untuk mengakhiri hidup atau menghancurkan diri sendiri dan masa depan.

Pertanyaannya bukanlah "Kenapa harus aku?" tetapi "Ini terjadi padaku, lalu apa yang harus kulakukan untuk kebaikanku?"
"Siapkah aku jika masa depanku seburuk masa sekarang?

credit
***
Seandainya aku tahu bahwa kekerasan bukanlah kasih sayang, tentu aku akan membela diriku sendiri.
Seandainya aku tahu bahwa kekerasan adalah kejahatan, tentu aku akan meminta pertolongan.
Seandainya aku tahu bahwa cacian, hinaan, carut-marut dan makian adalah kekerasan verbal, tentu aku tidak mengijinkan siapapun melakukannya padaku.
Seandainya orang-orang di sekitar rumahku dan yang mengenalku lebih peduli dan bertindak, tentu aku tidak perlu melaluinya bertahun-tahun.
Seandainya aku diajarkan bagaimana menjaga diriku semenjak kecil, tentu bayangan dan mimpi buruk telah dilecehkan tidak terus menghantuiku.

Seandainya aku lebih memilih menyerah dari hidup, tentu kini aku tidak bisa memiliki keluarga yang bahagia.
Seandainya aku lebih memilih lari pada narkoba atau seks bebas, tentu kini aku jauh lebih menderita.
Seandainya aku memilih untuk melakukan kekerasan juga pada anak-anakku, tentu mereka juga benci padaku dan melakukan itu pula pada anak-anak mereka.
Seandainya aku memilih untuk tidak membebaskan diriku dari belenggu kekerasan, tentu aku tidak akan pernah merasakan cinta dan kasih dari suamiku.
Seandainya aku tidak membuka diri akan apa yang telah dialami di blog, tentu akan lebih banyak lagi korban-korban sepertiku.
Seandainya aku tidak memiliki keyakinan bahwa Allah sayang padaku, tentu aku akan menjalani hidup dalam neraka bertahun-tahun lagi.
Aku telah memilih, lalu kamu memilih melakukan apa?

*** Tulisan ini dipublikasikan sebagai pengantar ebook "Kekerasan Seksual Terhadap Anak Lawan dengan Kekerasan" sebuah gerakan #KEBAgentofChange yang dicanangkan oleh komunitas Kumpulan Emak Blogger bulan September lalu.

credit
post signature

24 komentar:

  1. Saya ijin share ini ya mbak, :D

    BalasHapus
  2. Sudah baca tulisan ini di ebook KEB, tetap haru. Pertama membacanya berlinang air mata...peluk erat untukmu mak 😌

    BalasHapus
  3. Sungguh May, mewek gw baca ini hiks *pelukkk*

    BalasHapus
  4. sungguh terharu. Tulisan ini mengingatkanku masa kecil yang keras

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih udah dibaca pak mandor :)

      Hapus
  5. baca ini jadi inget anak2 didikku yg korban bulliying,yang parah sih sampe stres sendiri,sampe2 gores pensil di kanannya mpe luka...ini yg bully teman2nya,gimana kl orangtua/orang tua ya...hickz,sedih bangettt :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gimana sekarang anak didiknya mbak? Udah gak di-bully lagi kan?

      Hapus
  6. pantes serasa pernah baca, tnyt di ebook KEB...
    jd bahan renungan buat saya sbg orang tua...

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga bermanfaat ya ebooknya mbak

      Hapus
  7. tulisan yang bagus banget mba May..dan sebage reminder juga buat para orangtua.. *mata berkaca kaca*

    BalasHapus
  8. iya sebisa mungkin kekerasan jangan dilakukan..

    BalasHapus
  9. saya baca ini selalu sedih, Mak

    BalasHapus
  10. :"(( udah baca padahal :"(((((((((
    hikz *hugs

    BalasHapus

Your thoughts greatly appreciated! Share it with us! (^_^)
Nowadays, I've been have hard times to reply comments or blogwalking to your blog. So, thank you so much for visiting me here!

Facebook

This blog is
Protected by Copyscape Plagiarism Detection
myfreecopyright.com registered & protected
DMCA.com
Copyrighted by Mayya.
Don't copy anything of this blog without any permissions.