//
- 6 Okt 2015

Di Balik Layar Rumah Kue Mayya


"Berapa harga cake ini , mbak?"
"Lima ratus ribu…"

Damn.

Suatu hari nanti,anak-anak bisa mendapatkan cake ultah yang mereka mau, berapapun harganya. I promise.


***

Siapa sangka, janji sekecil itu membawa hal besar dalam kehidupan kami.

Semenjak kelahiran Boo, kami hidup lebih pas-pasan lagi. Walaupun hubby memiliki dua pekerjaan, karyawan kantor dan merangkap fotografer studio kecil-kecilan, kami harus tetap hidup sangat ekonomis *halah, emangnya resep kue?*

Memiliki anak-anak yang aktif seperti Bee dan Boo, mau gak mau, mereka butuh jajan. Selain karena sudah banyak jajanan yang gak sehat, saya juga butuh berhemat. Saya mulai belajar memasak kue-kue untuk mereka. Bikin kue? Hal yang gak pernah saya lakukan sebelumnya.
Tanpa sengaja, saya terdampar di blog salah seorang dosen saya dulu. Rasanya mimpi bisa masak-masak cantik seperti itu. Disana saya mulai mengenal Natural Cooking Club (NCC). Lalu saya mulai japri si ibu dosen nanya-nanya. Udah kayak bimbingan Tugas Akhir deh! Hahaha... Makasih ya bu Lukie!

Awalnya dulu hanya punya kukusan. Lalu dari uang arisan, saya membeli oven listrik (pernah saya ceritakan disini). Menabung lagi, mixer pun terbeli.

Keinginan berjualan kue datang begitu saja ketika saya baru memiliki sebuah sepeda untuk mengantar jemput Bee sekolah.
Jauh sebelum ada sepeda, ketika hamil Boo masih bisa jalan kaki sambil payungan menjemput Bee pulang sekolah di tahun TK-nya yang pertama atau nebeng tetangga sekompleks. Di tahun kedua TK, ketika menjemput Bee pulang, Boo terpaksa dititipkan ke rumah tetangga. Saya mulai ragu apa bisa begitu terus, karena Boo makin besar dan makin lasak. Saya tipe yang gak bisa nyusahin orang lain, kali ya hahaha...
Entah rejeki dari mana, akhirnya kami bisa membeli sepeda. Sekalian juga membeli gendongan ErgoBaby KW. Walaupun rasanya mahal, tapi ternyata gendongan ini worth it banget. Saya bisa bersepeda kemana-mana dengan Boo digendong belakang.


Dengan adanya sepeda dan bermodalkan bisa bikin brownies, saya mulai nitip ke kedai-kedai sebelum mengantar Bee sekolah. Disana saya belajar menghitung modal, untung dan rugi. Sadar bahwa menjual brownies potong kurang menguntungkan, malah lebih banyak rugi, mikir lagi mau jualan apa.

Saya teringat dengan bolu kukus karakter/hias (mingkem) yang pernah ditayangkan di TV. Modalnya sedikit dan disukai anak-anak. Ternyata membuat bolu kukus karakter tidak segampang itu. Belasan kali bantat,  belasan kali kurang matang, belasan kali mekar (padahal susah bikin mekar juga kan?), belasan kali gagal hasil lukisannya, berulang kali gonta-ganti resep. Masalahnya bisa di adonan, api yang kurang kecil, uap yang kurang banyak, bahkan jenis kukusannya.
Begitu banyak variabel dan teknik hanya untuk bolu kukus mingkem.

Bolkus-bolkus pertama yang dititipkan di warung


Bolkus mingkem masih menjadi ciri khas di Rumah Kue Mayya

Kalau mau menyerah sekarang, lalu saya mau ngerjain apa? Angkat tangan dan berhenti aja? Sedangkan hanya ini mimpi yang saya punya. Punya toko cupcake sendiri. Impian kita gak akan dikerjakan orang lain untuk kita.

Kalau sudah begitu, saya akan istirahat sejenak, gak membuat kue apapun dulu. Dilampiaskan bersih-bersih rumah, nulis blog atau memasak menu masakan baru. Setelah pikiran jernih, saya coba lagi membuat bolu kukus lagi.

Belasan kali gagal itulah membuka mata saya, membuat kue butuh teknik yang tepat. Saya banyak belajar dari situ. Jadi dengan melihat bentuk adonan saja, saya sudah mulai tahu tekniknya sudah benar atau nggak. Mengikuti langkah-langkah di resep dengan akurat adalah hal terpenting. Gak bisa cuma ikuti kata hati hahaha...

Karena kukusan saya ukurannya kecil, hanya untuk kebutuhan rumah tangga, saya meminjam kukusan ekstra besar punya tetangga. Nah,ketika tetangga akan pindah, mau gak mau kukusan tersebut dikembalikan. Dan syukurlah, hal ini tidak menghalangi saya terus berjualan, karena saya bisa membeli dandang nasi besar sebagai gantinya.

Dengan bolu kukus hias inilah saya mulai percaya diri. Kotak kue hampir selalu kosong. Dari 12 buah, naik jadi 18 buah. Lalu naik terus. Ini saya jalani hampir 3-4 bulan.

***

Resiko menitipkan kue ke warung adalah harus konsisten tiap hari. Saya makin kewalahan. Boo makin aktif dan saya tidak punya waktu mencoba resep-resep baru. Blog sudah tertelantarkan. Saya memutuskan berhenti. Saya perlu naik tingkat.

Saya pun beralih untuk mencoba usaha cake online. Dulu saya pernah menjadi dropshipper, jadi setidaknya saya tahu sedikit soal usaha online. Tapi cake? Cake online? Kendaraan saja tak punya!

Hubby-lah yang mau mengantarkan kue ke pemesan sebelum ia berangkat kantor. Ia adalah supporter saya nomor satu. Dukungan hubby besar banget. Ia rela kesana kemari membeli kebutuhan bahan kue. Ia gak malu mondar-mandir sambil bawa daftar belanjaan demi istrinya ini.
Lama kelamaan saya yang tidak tega.
Akhirnya saya mendapatkan kurir online, sehingga tak perlu merepotkan hubby lagi. Namun pengantaran kedua kali, cake tidak berbentuk ketika sampai ke pelanggan, sehancur hati saya. Saya mencari kurir lagi, yang sampai sekarang masih menjadi rekanan saya.

Kegagalan demi kegagalan datang silih berganti dalam menjalankan usaha ini. Cake yang bantat terus menerus dalam 1 malam, pelanggan yang komplen, pesanan yang tidak bisa memenuhi kuota karena tiada asisten, tidak tidur semalaman karena memenuhi pesanan, pemesan yang tidak jadi mengambil pesanannya dan kegagalan lainnya. Namun sudah terlanjur cinta baking, saya tetap gak bisa berhenti. Belajar dari kegagalan, sedikit demi sedikit diperbaiki.
Gagal boleh saja, tapi tetap keep moving forward!

***
Memiliki bocah-bocah aktif berumur 6 tahun dan 2 tahun dan tanpa ART, rasanya hampir tidak mungkin melakukan ini semua. Tapi apa yang saya ajarkan pada mereka jika saya menyerah? Anak-anak adalah motivasi, bukan hambatan atau halangan.
Si sulung sekarang paham arti berwirausaha. Kita menjual sesuatu, baru mendapatkan uang. Sebagian ditabung, dan sebagian lagi dikumpulkan untuk membeli barang.
Bahkan ia menyemangati bundanya, "Semangat, jangan menyerah, Bun!" ketika kami berjalan kaki membawa beban berat bahan kue turun dari halte bus trans ke pangkalan ojek.
Si balita 2 tahun, mengerti bahwa ketika 'bunda kerja' ia tidak mengganggu. Si abang adik ini akan sibuk bermain berdua, jika bundanya di dapur. Dan si abang akan menjaga adiknya senantiasa. Traktiran es krim sebagai reward karena berkelakuan baik, adalah kebahagiaan kanak-kanak. Such a wonderful boys!


***

Diremehkan adalah makanan spesial (pake telor). "Udah tau punya anak balita, tapi sibuk juga jualan kue!" jawaban yang saya terima ketika saya curhat begadang karena mengerjakan pesanan. Memang saya tipenya keras kepala, malah jadi makin tertantang. Hahaha.

Baking jadi salah satu terapi saya untuk healing setelah meninggalkan kekerasan sejak kanak-kanak. Alhamdulillah, saat ini mimpi dan kenangan buruk sudah sangat jauuuh berkurang. Saya bisa fokus pada masa depan dan menjadi kreatif seperti yang saya mau sejak dulu. Mau membuat apa, mau mengerjakannya bagaimana, mau hasilnya seperti apa, saya bisa menjadi diri sendiri. Tak perlu takut akan pendapat orang lain (walaupun tetap harus memuaskan customer dong ya!)
Percaya diri pun jadi membuncah. Gak seperti dulu lagi, selalu merasa 'gak punya apa-apa' karena gak bekerja (berkarya).

Seorang teman pernah bertanya, kenapa saya tidak meneruskan karier saya sebagai programmer saja? Padahal ia tahu bahwa saya senang sekali koding, and I'm good at it.
Saya katakan padanya, bahwa saya menyukai hal yang berbeda sekarang. Hidup sebagai computer engineer membuat saya terisolasi. Saya suka sendiri, tapi tidak suka kesepian. Saya memang introvert, tapi makin kesini, saya senang dikelilingi orang lain. Melayani pembeli secara online memuaskan jiwa saya karena saya tidak perlu gugup berhadapan langsung dengan orang lain, namun sekaligus bisa berbincang-bincang dengan bebas.

***
Percaya atau tidak, saya tidak pernah mengikuti kursus ketika memulai usaha cake ini. Pinterest dan youtube adalah media sosial yang menginspirasi terbesar yang pernah ada. Apapun tutorial yang saya mau, tinggal searching disana. Saat ini saya bisa mengikuti kursus cake online. Tidak perlu repot membawa anak-anak ke tempat kursus seperti tentara mau pergi perang. Indahnya teknologi.

Walaupun membagi waktu antara usaha, ibu rumah tangga dan istri sangat melelahkan, namun cita-cita saya sejak SMA : menjadi ibu rumah tangga berkarier, alhamdulillah telah dikabulkan.

Bagi yang domisili di Pekanbaru, bisa pesan disini ya

Hidup memang penuh misteri. Kuliah di teknik komputer, kerja di perusahaan telekomunikasi, berakhir (?) menjadi baker.
Menulis blog (yang kebanyakan draft hahaha) dan baking adalah dua hal yang tidak bisa saya tinggalkan sekarang.
Blogger baker, sah kan?


Don't ever let somebody tell you... You can't do something. Not even me. You got a dream... You gotta protect it. People can't do somethin' themselves, they wanna tell you you can't do it. If you want somethin', go get it. Period. ~ Christopher Gardner, The Pursuit of Happyness

Dan ya, saya tetap nangis kejer pas adegan ini!



post signature
Disclosure : Please note some of the links in this post maybe affiliate links (compensation level 3). This doesn't cost you anything additional. Read my disclosure here.

29 komentar:

  1. wow keren2 kuenya... bolkus mingkem nya juga lucu2 banget... :)

    BalasHapus
  2. baca dari awal sampai akhir dan merasakan sekali aura semangat dirimu may, didoakan dari jauh semoga semakin sukses yaaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin mbak rinaaaa...doa yang sama untuk mbak!

      Hapus
  3. hhi.. baru hari ini aku ngerasanin.. kangen tulisan mbak mayy. kok udh lama gak posting yah.
    td pagi aku check blog blom ada postingan..
    eh plg.. siang2 udh ada notif..
    hhi..
    semangat mbak mayyy.. semoga lancar yah usaha kuaenyaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah, jadi tersanjung ini mbak bella :)

      aminnn...makasih yaaa!

      Hapus
  4. Lucu2 mbaa, ternyata ada perjuangan besar dibalik kesuksesan yang sekarang ya. Semua diraih dnegan proses. AH salut seklai denganmu mba May. Aku suatu saat juga pengen belajar asak yang serius Suatu saat entah kapan hahaha

    BalasHapus
  5. Lucu2 kuenya, aku pengen bisa bikin sendiri tapi terlalu males buat masuk dapur :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha.. pesan di aku aja mbak! *eh

      Hapus
  6. Test komen.. Yang tadi masuk ga ya? But eniwei.. Pingin mendoakan supaya usahanya makin maju dan makin membawa berkah buat Mayya sekeluarga.. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminn...doa yang sama untukmu beee!

      Hapus
  7. maaaak keren euy... aku bacanya sampe mbrebes mili, gak tau kenapa. aku merasakan juga perjuangan jualan kue ini mak... sukses buatmu, buat kita yaaaa...aamiin *bighug*

    BalasHapus
  8. Ah speechless baca pengalamannya mbak... sy merasa "tdk ada apa2" ...hiks

    BalasHapus
  9. Eka my bestie...sukses ya become a baker...kapan kapan aq mw donk kue nya...miss you so much darlz salam buat bee boo en ur hubby

    BalasHapus
  10. mantap may...smg makin sukses bisnis kuenya...tapi beneran ya setelah punya anak, say ajuga jadi praktik2 bikin kue ya demi anak supaya ga jajan yang ga sehat dan hemat karen akalau beli kue basah jatuhnya mahal kalau mau makan sepuasnya hahahha

    BalasHapus
  11. Menginspirasi dan mengharukan. Smgt dan suksesss

    BalasHapus
  12. Selamat Mayya.. cita2 menjadi irt yg berkarir sudah tercapai, semoga sukses selalu.. rasanya cita2ku pun sm seperti dirimu. Makasih atas tulisan ini, bikin semangat.. :)

    BalasHapus
  13. Semoga makin sukses usahanya May. Kuenya cantik2 :D

    BalasHapus
  14. Allhamdulillah ya sekarang sudah bisa bikin cake sendiri, sayang banget aku gak bisa nyicipin kuenya nih

    BalasHapus
  15. Cikgu Eka Putriii...berarti kalo mau bikin seperti yang di atas itu, kue bolu kukusnya harus gak mekar,ya? Harus bantat atau gimana? Karena biasanya kan kue bolu itu orang senengnya yang mekaaar... Tapi ini lain, lucu, dilukis pula, jadi anak-anak pasti suka. Menginspirasi sekali. Salam hangat dari bunda

    BalasHapus
  16. sah banget., yang penting tetap semangat ., hhe., salam kenal kak., :)

    BalasHapus
  17. Kuenya cantik2 bgt, jd pingin bisnis kue jugaa

    BalasHapus
  18. Terinspirasi!
    Sah banget kok, mak. Keren ih. Aku kebayang perjuangannya. Sukses selalu ya mak, terus semangaaattt! :)

    BalasHapus
  19. Nah, ini nih yg udah lama banget pengen aku tahu tentang jualan kuemu, Mbak. Pengin kepo, nanya2 kok bisa dari yg tadinya suka koding2an jadi banting setir ke bisnis kue, yang mana di rumah punya anak kicil2 pulak. Ngebayanginnya aja aku nggak sanggup. Tapi dirimu hebat bisa ngejalanin semuanya!

    Sukses terus ya buat usaha kuenya! ^___^

    BalasHapus
  20. inspiratif banget mak! Jadi semangat nih... semangat makanin bolu mingkemnya maksudnya heheh :P

    BalasHapus
  21. semangatnya kece badai mak, keren euy,
    semangat terus pantang menyerah mak, sukses pasti bs sgera diraih, salut bgd bwt si hubby, buat dua bocil jugak, partner yg kompak :D

    BalasHapus
  22. Wah keren, laris terus dagangan kue nya :D

    BalasHapus
  23. Kue-nya lucu-lucu.. Apa gak sayang makannya?

    BalasHapus

Your thoughts greatly appreciated! Share it with us! (^_^)
Nowadays, I've been have hard times to reply comments or blogwalking to your blog. So, thank you so much for visiting me here!

Facebook

This blog is
Protected by Copyscape Plagiarism Detection
myfreecopyright.com registered & protected
DMCA.com
Copyrighted by Mayya.
Don't copy anything of this blog without any permissions.