//
- 22 Okt 2015

Sudah Siapkah Masuk SD?

Alkisah dua tahun yang lalu, seorang anak 4 tahun nangis kejer di depan rumah tiap pagi lihat anak tetangga pergi sekolah. Dan demi si bocah, pas tahun ajaran baru, didaftarkanlah sekolah TK. Sengaja hanya TK dekat rumah yang biasa, supaya ketika si bocah jikalau hanya semangat sementara, gak kecewa (udah bayar uang pendaftaran dan baju seragam sekolah sih *tetep motif ekonomi si emak*).

Sebulan dua bulan berlalu ternyata Bee senang sekolah, hingga tamat TK kecil. Lalu lanjut TK besar. Sekarang, setamat TK besar, bangku SD sudah di depan mata. Umur Bee bahkan belum genap 6 tahun. Sedangkan penerimaan SD dibuka untuk anak 7 tahun.

Lalu kami pun bingung.


Bee (sekarang 6 tahun) dan Boo (sekarang 2 tahun)

Tahunya dulu waktu TK gak ada tuh mikir udah harus baca tulis. Semuanya diajarkan di SD kelas 1. Makanya ketika baru tahu ada kebijakan bahwa anak harus sudah pandai baca tulis ketika baru masuk SD dan minimal berumur 7 tahun, kami jadi mendadak merasa kurang piknik.

Ya Tuhan!

Di satu sisi, kami sudah kepalang tanggung untuk menyekolahkan ke SD. TK lagi? Apa kata tetangga? Apa kata orang-orang terdekat? TK udah 2 tahun loh!
Homeschooling? Takut gak bisa disiplin ke anak *emak sok rempong*

Di sisi lain, Bee masih ogah-ogahan membaca dan menulis cukup lama. Masih senang main. Tiap dibicarakan masuk SD, ia selalu bilang kalau gak mau masuk SD.

Tapi kadang-kadang (sering sih) ego orang tua bicara. Rencana masuk SD tetap diteruskan. Siap atau gak siap si anak, ya jalanin aja.

Hasil nanya sana-sini, ada yang cerita salah satu anak murid di SD terpaksa harus tinggal kelas, gak bisa naik ke kelas 3 SD karena masih gak bisa baca. Ada juga cerita anak murid yang bisa berprestasi walaupun ketika masuk SD umurnya kurang dari 6 tahun.
Tiap anak beda-beda kemampuan dan penerimaannya menghadapi tekanan. Lalu Bee? Saya galau setengah hidup.

Kenapa gak SD swasta? Umur berapapun diterima kok!
Satu-satunya opsi sesuai kemampuan bagi kami hanya SD Negeri. Belum bijak rasanya jika mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk pelajaran SD, yang notabene masih bisa di-handle emaknya ketika Bee tertinggal pelajaran.
Selain itu, SD swasta biasanya memiliki jam pelajaran lebih lama dan Bee gak suka terlalu lama pulang sekolah.

Memakai jalan belakang supaya anak diterima SD walaupun umurnya belum cukup selalu saja ada, tapi bukankah niat menentukan hasilnya?
Niat tidak jujur tentu hasilnya tidak baik pula.
Pengen punya anak sholeh tapi…

Si emak udah pusing tujuh keliling.
Ah, biarlah TK lagi, toh belum tentu bisa lolos masuk SD.

Si Ayah berbeda pendapat. Bee harus masuk SD. Gimanapun caranya.

Gak ketemu kata mufakat, maka jawaban kembali lagi pada Bee. Sebenarnya sudah siapkah ia masuk SD? Apa yang terbaik untuk Bee? Kesampingkan kata orang. Kesampingkan ego orang tua.
Kedepankan anak.

Satu-satunya jalan tentu mengurus surat rekomendasi psikolog apakah si anak sudah siap masuk SD. Salah satu teman lama yang berprofesi sebagai psikolog di RS Swasta di Pekanbaru menjadi jalan keluar dari ketidaksepakatan kami. Bee sebaiknya mengikuti Tes Kesiapan Sekolah. Jalan keluar yang kami ambil mesti yang terbaik bagi si bocah berdasarkan hasil psikotes.

Bee dites lebih kurang 1 jam hanya berdua dengan psikolog.
Ia ditanyakan bagaimana menulis nama, angka, menggambar dan menceritakan kembali.

Hasilnya : Bee belum siap masuk SD!

Dengan hasil tes itu, berdasarkan saran psikolog, Bee bisa saja masuk SD tapi jika ia mengalami kesulitan mengikuti, ia bisa tidak naik kelas. Sebaiknya Bee tetap sekolah TK dulu hingga ia siap. Memang sih, lebih sedih liat temen-temen sekelas di SD naik kelas kaaan? *tiba-tiba mellow*

Oh ya, bagi yang ingin tahu biaya tes ini cukup murah kok, hanya 100.000. Hasil tes keluar sehari setelahnya.

Dan begitulah, tanpa ada perdebatan lagi antara saya dan hubby, kami segera mendaftarkan Bee ke TK yang baru. Bagaimanapun kami harus sepakat untuk melakukan yang terbaik bagi anak dan yang dibutuhkan anak, tanpa mengenyampingkan perasaan si anak. Menjadi orang tua adalah pelajaran tiada henti!

Masalah TK vs SD ini akhirnya bisa kami selesaikan dengan baik! Sejauh ini, Bee senang dengan sekolah barunya. Ia bisa betaaah banget si sekolah, malah sering gak mau pulang. Ia juga memiliki sahabat-sahabat baru. Alhamdulillah!

Doakan Bee tahun depan bisa mendaftar di SD dengan mental yang siap dan hati gembira yaaa!




post signature




Disclosure : Please note some of the links in this post maybe affiliate links (compensation level 3). This doesn't cost you anything additional. Read my disclosure here.

9 komentar:

  1. Allhamdulillah walau di TK lagi happy ya. Lebih baik gitu mbak kalau hasil dari psikolognya

    BalasHapus
  2. tfs, Mak.

    Ini yang bakal saya hadapi 2 tahun ke depan. Alhamdulillah sudah dicarikan solusi sama Emaknya, jadinya 2 tahun lagi saya ke psikolog juga.

    anakku umur 3 1/2th udah masuk TK (sebenarnya emaknya daftar masuk Kelompok Belajar, tapi ternyata pihak sekolah masukkin ke kelompok TK, hehe)

    BalasHapus
  3. Semoga tahun depan, Bee lancar daftar SD nya yah..

    TFS yah Mayy.. 2thn lg giliran aku nih :)

    BalasHapus
  4. Salut dg ortu cerdas begini. Semoga Bee semangat belajar ya nak.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  6. sampai ke psikolog segala ya mbak, kadang kita memang galau ya mbak, apalagi banyak yang mengiming-imingi bisa sekolah.... tapi ya keyakinan masing-masinglah..

    BalasHapus
  7. Amin, semoga tahun depan sudah siap ya.. eh beneran mbak child abuse survivor ? #OOT :)

    BalasHapus
  8. Amiiin, semoga tahun depan waktunya masuk SD Bee sudah siap y

    BalasHapus
  9. Thanks for sharing Mbak.
    Ceritanya agak mirip nih.
    Anak saya Rayyaan sudah pengen sekolah.
    Intinya sih kami melihat ada keinginan yang besar darinya untuk lebih banyak sosialisasi sama teman sebaya.
    Meski ya sosialisasi ga cuma di sekolah, tapi main sama teman sebaya di sekitar rumah kurang memungkinkan.
    Mau main sama sepupu or anak2 sepupu saya juga belum tentu jadwalnya pas krn ortunya juga pada kerja.
    Mau dilesin lego yang sesuai kesukaannya eh umurnya belum cukup hihi.
    Jadilah ikut semester 2 di sebuah PG.
    Kalau lanjut PG lagi memang seolah kegedean dari segi fisik (anaknya lumayan tinggi n sering dikira anak TK), apalagi banyak juga anak yang belum 4 tahun di Juli nanti & sudah lanjut TK.
    Tapi saya & suami masih keberatan, krn nanti SDnya bakal belum genap 6 tahun.
    Di sisi lain tiba2 mellow kemarin masih bayi kok 2 thn lagi sudah SD hehe
    Mengingat pelajaran SD sekarang beda dengan jaman kami SD dulu, kalau belum genap 6 tahun khawatir dia merasa overwhelmed
    Sementara ini opsinya mungkin off sekolah dulu, ikut les lego (Juli nanti sdh cukup umur) sambil tunggu cukup umur masuk TK
    Tapi nggak memungkiri kami juga perlu menguatkan hati karena banyak anak kelahiran di atas Juli yang sudah didaftarkan TK oleh ke orang tuanya
    Yah tiap anak memang beda-beda & masuk TK/SD lebih awal belum tentu pas bagi perkembangan semua anak

    BalasHapus

Your thoughts greatly appreciated! Share it with us! (^_^)
Nowadays, I've been have hard times to reply comments or blogwalking to your blog. So, thank you so much for visiting me here!

Facebook

This blog is
Protected by Copyscape Plagiarism Detection
myfreecopyright.com registered & protected
DMCA.com
Copyrighted by Mayya.
Don't copy anything of this blog without any permissions.